Tiga Dosen UII Terima SK Profesor

Tiga dosen UII yang baru saja menerima SK Profesor di Kampus Terpadu UII Yogyakarta, Selasa (11/2/2020). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Tiga dosen Universitas Islam Indonesia (UII) menerima Surat Keputusan (SK) Profesor atau Guru Besar dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ketiga dosen UII adalah Dr. Jaka Sriyana SE, MSi,  Dr Drs Nur Feriyanto, MSi, dan Fathul Wahid, ST, MSc, PhD, Rektor UII. Surat Keputusan disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Prof Dr Didi Achjari, SE, MCom, Ak, CA,  di Gedung Kuliah Umum, Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang Km. 14,5, Selasa (11/2/2020).

Penyerahan SK Profesor disaksikan Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PYBW) UII, Drs Suwarsono Muhammad, MA. Jaka Sriyana sebagai profesor di bidang Ekonomi Pembangunan, Nur Feriyanto dalam bidang Ilmu Manajemen dan Fathul Wahid sebagai Guru Besar bidang llmu Sistem lnformasi.
 
Dijelaskan Dr Drs Imam Djati Widodo, M Eng Sc, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset, saat ini UII memiliki 20 profesor dari beragam rumpun bidang keilmuan. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat masih ada191 dosen yang telah bergelar doktor dan 47 orang diantaranya mempunyai jabatan fungsional Lektor Kepala. “Sebanyak 26 dosen layak dilakukan untuk mengikuti proses Guru Besar, dimana tiga dosen telah diusulkan Guru Besar ke LLDIKTI,” kata Imam Djati Widodo.

Bacaan Lainnya

UII, lanjut Imam, terus berupaya menambah jumlah profesor  dengan menerapkan Program Percepatan Guru Besar. Program tersebut terdiri dari Sabbatical Leave, Visiting Professor, Hibah Penelitian Kolaboratif, dan Coaching Clinic.

Sabbatical Leave berupa penelitian dan penyusunan naskah publikasi di institusi atau universitas yang memberikan fasilitas penelitian yang memadai atau mempunyai pakar yang memenuhi keahlian yang dibutuhkan dosen. Fasilitas lain yang diterima dosen peserta sabbatical leave ini antara lain, biaya hidup, tiket pesawat, visa, asuransi kesehatan dan subsidi dana penelitian.
 
Visiting Professor, kata Imam, mengundang profesor kelas dunia dari Perguruan Tinggi (PT) ternama dari luar negeri. Profesor ini diharapkan dapat membimbing dosen dalam meningkatkan kehidupan akademis, kompetensi, kualitas dan kontribusi keilmuan.

“Waktu yang diberikan minimal 10 hari, dengan fasilitas biaya hidup dosen pakar/ahli per bulan, honor dosen pakar/ahli per bulan, biaya pertemuan, workshop, seminar, penyusunan laporan, honor pendampingan, pengurusan keimigrasian, asuransi, tiket perjalanan dan subsidi panelitian,” kata Imam.
 
Sedang Hibah Panelitian Kolaboratif adalah hibah penelitian untuk meningkatkan kualitas penelitian dosen yang bermuara pada hasil yang dipublikasikan melalui jurnal bereputasi. UII memfasilitasi dosen melakukan kolaborasi penelitian dengan pakar dari luar UII. “UII menyediakan dana sampai maksimal Rp 75.000.000 per dosen yang terpilih mengikuti kegiatan ini,” ujar Imam. 

Sedang Coaching Clinic merupakan kegiatan pembimbingan dalam penulisan artikel yang dilakukan pembimbing profesional kepada peserta program, baik dalam bentuk pembimbingan tatap muka maupun secara online. Dalam kegiatan coaching clinic ini, peserta program difasilitasi berupa honorarium pembimbing sampai terbit jurnal. 

“Selama tahun 2019, UII telah mengalokasikan dana sebesar Rp 291.750.000 yakni untuk sabbatical leave tiga orang, coaching clinic tiga orang dan penelitian kolaboratif satu orang,” tandas Imam.

Sementara Prof Didi Achjari, mengatakan LLDIKTI Wilayah V terus berupaya untuk meningkatkan jumlah profesor. LLDIKTI Wilayah V terus memantau dan memberi fasilitas bagi dosen yang telah mengajukan usulan untuk mendapatkan gelar profesor.

“Kami mentargetkan ada 100 Guru Besar di LLDIKTI Wilayah V hingga tahun 2023. Alhamdulillah tahun 2019 berhasil mendapatkan tujuh guru besar (UII tiga orang, UMY tiga orang, UAJY satu orang),” kata Didi.

Namun untuk tahun 2020 ini, Didi masih pesimis karena hingga bulan Februari belum terbentuk tim yang menangani pemberian gelar profesor. “Tiga profesor UII ini beruntung bisa selesai tahun 2019,” kata Didi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *