PT TWC Kembali Pentaskan Sendratari Ramayana di Open Air

Hanoman dan kawan-kawannya di Pentas Sendratari Ramayana, Prambanan, Yogyakarta. (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Setelah terhenti selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, Unit Teater Pentas PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko kembali pentaskan pertunjukan kolosal Sendratari Ramayana di Open Air (Panggung Terbuka). Pertunjukan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1443 H dilaksanakan selama tiga hari, Selasa, Kamis, dan Sabtu (3, 5 dan 7/5/2022).

“Antusiasme penonton luar biasa, bahkan VIP juga banyak penontonnya. Ini merupakan surprise karena kami sudah dua tahun tidak show dan sebenarnya juga masih ragu. Tapi ternyata penontonnya luar biasa, baik dari luar kota seperti Jawa Barat, Jakarta dan juga wisman dari Amerika, India, Korea dan Perancis,” kata GM Teater Pentas Ramayana Prambanan, Chrisnamurti Adiningrum di Prambanan, Sleman, Jumat (6/5/2022).

Lebih lanjut Chrisnamurti mengatakan penonton pada pertunjukan perdana Sendratari Ramayana di Panggung Terbuka Selasa (3/5/2022), 393 orang. Kemudian pada hari kedua pertunjukan Kamis (5/4/2022), ada 477 orang.

Untuk menarik wisatawan ke Prambanan, kata Chrisnamurti, Unit Teater Pentas terus menampilkan pertunjukan budaya berkualitas. Selain Sendratari Ramayana, juga ada pertunjukan dramatari Roro Jonggrang yang disuguhkan kepada wisatawan.

“Semoga ini sebagai awal yang baik untuk kami selanjutnya. Ke depan, kami optimis melihat jumlah penonton yang terus meningkat. Wisatawan sudah ingin melihat pertunjukan di Open Air,” kata Chrisnamurti.

Salah satu penonton dari Jakarta, Dina, mengaku terkesan dengan pertunjukan Sendratari Ramayana. Ia baru pertama kali melihat pertunjukkan ini dan merasa puas.

“Sudah lama ingin ke sini dan ternyata luar biasa. Saya sangat terkesan karena benar-benar teatrikal sekali, pemain-pemainnya juga sangat talented banget. Overall bagus banget, puas sekali dan akan nonton lagi, begitu ada kesempatan,” kata setelah melihat Sendratari Ramayana, Kamis (5/5/2022).

Jalan Cerita
Sendratari Ramayana yang digagas Letjen TNI (Purn) GPH Djati Kusumo mulai dipentaskan sejak tahun 1961. Inti cerita Sendratari Ramayana adalah perjalanan Rama Wijaya dalam menyelamatkan isterinya, Shinta yang diculik Raja Alengka, Rahwana.

Rama dan Shinta saat berburu di hutan. (foto : heri purwata)

Cerita Sendratari Ramayana dimulai dari Negeri Mantili yang dipimpin, Prabu Janaka. Ia mempunyai mempunyai seorang putri cantik, Dewi Shinta. Untuk menentukan calon suaminya, Prabu Janaka menggelar lomba. Akhirnya lomba dimenangkan Putra Mahkota Kerajaan Ayodya, Raden Rama Wijaya.

Sementara Prabu Rahwana, Raja Alengkadiraja juga ingin memperistri Dewi Widowati. Namun setelah melihat Dewi Shinta, Rahwana beranggapan jika Shinta merupakan titisan Dewi Widowati yang telah lama dicarinya.

Untuk merebut Shinta dari Raden Rama Wijaya, Rahwana membuat jebakan. Saat Rama Wijaya, Shinta dan Lesmana berburu di hutan Dandaka. Rahwana mengubah asistennya, Kalamarica menjadi seekor Kijang Kencana.

Shinta tertarik pada Kijang Kencana sehingga meminta Rama Wijaya untuk menangkapnya. Namun cukup lama Rama tidak kembali dan Shinta menjadi cemas sehingga meminta Lesmana untuk menyusulnya.

Sebelum menyusul Rama, Lesmana telah ‘mengamankan’ Shinta dengan lingkaran magis agar orang tidak bisa mendekati Shinta. Rahwana pun tidak berhasil mendekati Shinta karena kekuatan magis.

Untuk mengeluarkan Shinta dari lingkaran magis, Rahwana mengubah dirinya menjadi Brahmana tua dan meminta belas kasihan kepada Shinta. Melihat Brahmana tua, Shinta timbul iba hatinya sehingga ia keluar dari lingkaran magis untuk memberikan sedekah. Di luar lingkaran magis Shinta ditangkap Rahwana dan dibawa lari ke Kerajaan Alengkadiraja.

Hanoman yang diutus mencari Shinta berhasil merebut dari tangan Rahwana. Meskipun Hanoman menghadapi banyak rintangan, namun ia berhasil membawa kembali Dewi Shinta dan membakar Kerajaan Alengkadiraja. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *