Ni Kadek : Novelty Penelitian Butuh Kreativitas, Ketelitian dan Keberanian

Ni Kadek Pujiani Dewi dan Fatimah Dian Ekawati pada Webinar 'Even Mahasiswa Doktor Rekayasa Industri Universitas Islam Indonesia Berbagi Pengalaman Terbaik #2.' (foto : istimewa)
Ni Kadek Pujiani Dewi dan Fatimah Dian Ekawati pada Webinar 'Even Mahasiswa Doktor Rekayasa Industri Universitas Islam Indonesia Berbagi Pengalaman Terbaik #2.' (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Strategi menemukan kebaruan (novelty) dalam penelitian membutuhkan proses kreativitas, ketelitian, keberanian mempertanyakan asumsi, dan kesediaan melihat penelitian sebagai pengalaman yang menyenangkan. Terutama dalam konteks kolaborasi antara akademisi dan industri.

Hal tersebut diungkapkan Ni Kadek Pujiani Dewi, Mahasiswi Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) pada Webinar Sabtu (22/11/2025). Webinar mengangkat topik ‘Even Mahasiswa Doktor Rekayasa Industri Universitas Islam Indonesia Berbagi Pengalaman Terbaik #2.’

Bacaan Lainnya

Host Webinar Fatimah Dian Ekawati, Mahasiswi Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Sedang webinar mengangkat tema ‘Cara Seru Mengungkap Novelty.’

Ni Kadek lebih lanjut mengulas berbagi pengalaman dalam bidang ergonomi, manajemen keuangan, dan akademisi. Selain itu, mengulas penelitian masa kini yang semakin membutuhkan dukungan transformasi digital dan pendekatan industri berkelanjutan untuk menjawab tantangan nyata di masyarakat.

“Novelty penelitian tidak selalu lahir dari teori besar. Namun Novelty penelitian, kerap muncul dari ketidaksempurnaan kecil yang selama ini tidak diperhatikan dalam sistem. Peneliti wajib mempertanyakan asumsi dasar, membaca jurnal secara luas, dan melakukan observasi lapangan,” kata Ni Kadek.

Menurut Ni Kadek, kebaruan penelitian dapat berbentuk cara pandang baru, metode yang lebih tepat, konteks penelitian yang belum banyak digali, hingga penggabungan teori yang sebelumnya berjalan terpisah. “Novelty bukan harus menciptakan teori baru, tetapi menghadirkan perspektif yang lebih jernih dan improvement yang dapat dipertanggungjawabkan,” tandas Ni Kadek.

Ni Kadek menambahkan pendekatan penelitian dimulai dari pencarian literatur, membaca abstrak dan kesimpulan. Selain itu, menelaah bagian keterbatasan artikel untuk mengidentifikasi celah yang belum dieksplorasi. Aspek budaya, faktor manusia, dan perspektif ergonomi juga disebut sering luput dari perhatian namun memiliki potensi novelty yang kuat.

Ni Kadek menegaskan idealisme memang penting untuk menghasilkan gagasan inovatif, namun tetap harus disertai pertimbangan praktis dan pembuktian empiris. Ketika temuan penelitian tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan promotor atau penguji, Ni Kadek menyarankan agar peneliti mengandalkan data yang kuat dan strategi ilmiah untuk menjembatani perbedaan.

Sementara Fatimah menambahkan proses menemukan hal baru seharusnya dibuat menyenangkan, bukan menakutkan. Melihat penelitian sebagai petualangan dapat menjaga motivasi peneliti. Fatimah juga menyoroti pentingnya mencatat ide seketika muncul, serta manfaat diskusi santai dan relaksasi dalam memicu kreativitas. (*)