Komarudin : Guru Miliki Peran Sentral Mencegah Bullying

Komarudin, Dosen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. (foto : istimewa)
Komarudin, Dosen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Guru memiliki peran sentral untuk mencegah terjadinya bullying di sekolah. Salah satu caranya, guru dan pihak sekolah secara terus menerus melakukan kampanye/promosi anti bullying melalui kegiatan formal atau informal di sekolah.

Komarudin, Dosen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengemukakan hal tersebut dalam rilisnya, Selasa (25/11/2025). Guru bisa menyisipkan nilai-nilai moral saling menghargai keberagaman pada saat pembelajaran di kelas.

Bacaan Lainnya

“Guru juga harus memberi contoh sikap dan perilaku kebaikan dan tidak melakukan sarkasme pada siswa yang memiliki keunikan tertentu,” kata Komarudin.

Komarudin mengingatkan persoalan bullying di sekolah sangat kompleks. Di antaranya, banyak korban bullying  tidak berani mengungkapkan kepada guru. Karena itu, guru harus jeli melihat perubahan sikap dan perilaku peserta didiknya.

Selain itu, Komarudin menyarankan guru harus cermat dan mengenali siswa yang bermasalah untuk diajak bicara dari hati ke hati. Guru dapat membangun relasi yang hangat dan tidak menghakimi karena siswa hanya akan bercerita ketika respons guru ramah. Guru melalui wali kelas/Bimbingan Konseling (BK) dapat membuka konsultasi mingguan untuk memfasilitasi siswa untuk menceritakan keluh kesahnya.

Menurut Komarudin intervensi psikologis sangat penting dilakukan untuk memutus mata rantai perilaku bullying di sekolah. Namun kendalanya sebagian besar guru tidak berlatar belakang dari psikologi. Sehingga sekolah wajib membekali guru dengan cara intervensi yang lebih praktis.
 
Secara umum, kata Komarudin, guru dapat menUniggunakan classroom management untuk membuat aturan anti-bullying. Selain itu, memberikan konsekuensi yang wajar dan edukatif bagi siswa yang melanggar aturan. Serta guru menanamkan karakter kepada siswa dalam bentuk perilaku sopan santun, empati, dan perilaku baik lainnya.

“Apabila permasalahan yang dihadapi tidak mampu ditangani guru dengan baik, maka guru hendaknya membangun sistem kolaborasi dengan profesional dan rujukan,” kata Komarudin.

Dalam beberapa waktu terakhir, kasus bullying di kalangan pelajar semakin mengkhawatirkan. Karena itu, kasus bullying wajib menjadi perhatian serius. Guru mengambil peran penting, menjadi sosok sentral untuk mencegah terjadinya kasus bullying. 

Menurut Komarudin, setidaknya ada tiga motif yang mendorong seseorang atau pun sekelompok orang melakukan bullying. Pertama, faktor individu, yaitu seseorang yang memiliki sifat temperamen dan kontrol diri rendah. Sehingga individu ini mudah tersinggung dan melampiaskan emosi kepada orang lain.

Kedua, faktor keluarga, didikan keluarga yang terlampau keras atau sikap orang tua yang otoriter dan penuh kekerasan dalam mendidik anak, akan ditiru anak dan dilampiaskan kepada orang lain yang lebih lemah dari dirinya. Hal ini sebagai bentuk kompensasi dari penderitaan yang dialaminya.

“Ketiga, kohesivitas kelompok, di mana bullying sering kali dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok remaja. Apabila salah satu anggota tidak melakukannya maka akan mendapat pengucilan,” kata Komarudin. (*)