SURABAYA, JOGPAPER.NET — Artificial Intelligence (AI) atau Akal Imitasi atau Kecerdasan Buatan semakin membuka peluang bagi industri untuk meningkatkan produktivitas, mengotomatisasi pekerjaan berulang, dan mempercepat pengambilan keputusan. Namun pemanfaatannya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang industri, penguasaan data, serta kemampuan berpikir kritis agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Dr Yuli Agusti Rochman, ST, MEng, mengemukakan hal tersebut pada Kuliah Umum pada Program Studi Teknik Industri, Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/10/2026). Kuliah Umum bertema ‘Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Pengambilan Keputusan Strategis di Industri.’
Lebih lanjut Yuli Agusti Rochman, Ketua Program Studi Magister Teknik Industri (Prodi MTI) Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) menjelaskan AI dapat meningkatkan kapasitas kerja secara signifikan. Terutama pada pekerjaan yang berulang dan memiliki pola yang relatif konsisten. “Seperti pekerjaan administratif, penyusunan laporan, analisis data, hingga pemantauan kinerja menjadi sejumlah bidang yang berpotensi memperoleh manfaat dari otomatisasi,” kata Yuli Agusti Rochman.
Pemanfaatan AI, kata Yuli, berkembang dari sekadar chatbot untuk menjawab pertanyaan menjadi perangkat otomatis, agen AI yang dilengkapi memori dan mekanisme umpan balik, hingga sistem orkestrator yang mampu membagi tugas kepada sejumlah agen sekaligus. Perkembangan tersebut membuka peluang bagi organisasi untuk mengubah proses bisnis.
“Dalam pengelolaan keuangan, misalnya, AI dapat membantu mengambil data transaksi, menyusun jurnal, merangkum informasi, dan menghasilkan laporan. Pada rantai pasok, teknologi serupa dapat dimanfaatkan untuk peramalan permintaan, pengadaan, serta pemantauan pemasok,” kata Yuli.
Yuli mengingatkan otomatisasi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap peran manusia. Penilaian, pengawasan, dan keputusan strategis tetap memerlukan pemahaman terhadap konteks masalah. AI juga tidak selalu tepat digunakan untuk semua pekerjaan, terutama tugas yang melibatkan banyak variabel dan membutuhkan pertimbangan manusia.
Yuli menekankan pentingnya membangun solusi berbasis AI dari keahlian yang telah dikuasai. Teknologi tersebut berfungsi sebagai pengali produktivitas, bukan pengganti kompetensi dasar. Karena itu, kemampuan memahami proses bisnis dan mengidentifikasi persoalan nyata menjadi landasan sebelum seseorang mengembangkan perangkat atau agen AI.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pendekatan tersebut menjadi arah pengembangan MTI UII. Mahasiswa didorong memahami proses industri, menguasai data dan analitik, merancang solusi berbasis AI, serta mengukur dampaknya terhadap kinerja organisasi.
Pendekatan ini diterapkan melalui empat bidang konsentrasi, yakni Manajemen Industri, Rekayasa Industri, Ergonomi dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta Logistik dan Manajemen Rantai Pasok. Setiap bidang memiliki peluang pengembangan solusi AI sesuai kebutuhan industri, mulai dari analisis risiko dan manajemen aset hingga optimasi produksi dan pemantauan keselamatan kerja.
MTI UII juga menempatkan kemampuan berpikir kritis dan metodologi penelitian sebagai fondasi pemanfaatan AI. Keduanya diperlukan agar rekomendasi berbasis data tidak diterima begitu saja, melainkan diuji dan digunakan secara bertanggung jawab.
Melalui kuliah umum ini, peserta diajak melihat AI bukan semata-mata sebagai ancaman terhadap pekerjaan, tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan solusi industri yang lebih efektif. Tantangannya terletak pada kemampuan mengubah informasi dan teknologi menjadi implementasi nyata yang memberikan nilai tambah bagi organisasi.
Sementara Yitno Utomo ST, MT, CSCA, Ketua Program Studi Teknik Industri, Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya mengatakan Kuliah Umum ini telah membuka mata hati untuk peduli dan sadar terhadap AI. Saat ini, secara nyata dunia industri tidak terlepas dari pemanfaatan AI, untuk menyelesaikan problem.
Yitno Utomo mengharapkan kerjasama Prodi Teknik Industri, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan Prodi Magister Teknik Industri UII tidak hanya pada Kuliah Umum saja. Tetapi ada tindak lanjut kerjasama kedua institusi ini secara utuh. “Di antaranya, penyusunan kurikulum sesama Prodi Strata Satu, serta bisa kerjasama untuk studi lanjut mahasiswa kami di Strata Dua. Mudah-mudahan bisa dibantu oleh Tim UII,” harap Yitno Utomo. (*)
