YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (18/12/2025) mengukuhkan tiga Guru Besar di Auditorium KH Abdul kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII Yogyakarta. Mereka adalah Prof Dr apt Vitarani Dwi Ananda Ningrum, SSi, MSi, Prof apt Suci Hanifah, SF, MSi, PhD, dan Prof Dr Sri Kusumadewi, SSi, MT.
Prof Vitarani Dwi Ananda Ningrum merupakan Guru Besar di Bidang Farmasi Klinis dan Farmakoterapi, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII. Vitarani menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Pengobatan Presisi: Translasi Bench to Bedside untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien.’
Prof Suci Hanifah sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Farmasi Klinik, pada FMIPA UII. Suci Hanifah menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Apoteker dan Keamanan Terapi Parental: Fondasi Keselamatan Pasien di Unit Perawatan Intensif.’
Prof Sri Kusumadewi menjadi Guru Besar Bidang Sistem Pendukung Keputusan, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII. Sri Kusumadewi menyampaikan pidato berjudul ‘Mewujudkan Layanan Kesehatan Primer Cerdas dan Inklusif Melalui Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Data.’
Dalam pidatonya, Vitarani Dwi Ananda mengatakan pengobatan presisi merupakan upaya pengobatan yang lebih menekankan pada keselamatan pasien. Pengobatan presisi merupakan penyempurnaan dari pengobatan yang konvensional atau pendekatan ‘One-Size-Fits-All’ (satu ukuran untuk semua).
Pendekatan ‘One-Size-Fits-All,’ kata Vitarani, merujuk pada praktik medis dengan pengobatan standar atau dosis obat yang sama diberikan untuk semua pasien dengan penyakit yang sama. Pendekatan ini tidak mempertimbangkan variasi individu seperti genetika, gaya hidup, lingkungan, serta interaksi antar-variasi atau karakteristik fisik unik lainnya (berat badan, usia, jenis kelamin).
“Pengobatan presisi ini perlu diberlakukan untuk semua warga negara Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etik, berkeadilan serta berorientasi pada kemaslahatan. Melalui integrasi pengobatan presisi dengan akal imitasi (AI) di Indonesia melalui Healthcare AI Hackathon 2025 diharapkan dapat menyediakan algorime prediksi keamanan dan efektivitas penggunaan obat berbasis maha data pasien yang memerlukan komitmen bersama dalam mewujudkannya,” kata Vitarani Dwi Ananda.
Sedang Suci Hanifah mengatakan terapi parenteral merupakan fondasi utama perawatan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU). Hampir seluruh intervensi farmakologis pada pasien dengan kondisi mengancam nyawa diberikan melalui jalur ini: cepat, invasif, dan tanpa toleransi terhadap kesalahan.
Namun ironisnya, di balik perannya yang sentral, terapi parenteral masih menyimpan risiko sistemik yang kerap luput dari perhatian, bahkan oleh tenaga kesehatan itu sendiri. ICU sering dipersepsikan sebagai ruang dengan teknologi tertinggi dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Dalam kondisi pasien kritis, apoteker tidak lagi cukup berperan sebagai penyedia obat, tetapi harus hadir sebagai penjaga rasionalitas terapi dan keamanan sistem.”Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa keterlibatan apoteker dalam tim ICU secara konsisten menurunkan kejadian efek obat yang tidak dikehendaki, memperpendek lama rawat, menurunkan biaya, dan yang paling penting, menyelamatkan nyawa,” kata Suci Hanifah.
Sementara Sri Kusumadewi mengatakan Clinical Decision Support System (CDSS) atau sistem pendukung keputusan klinis (SPKK) adalah sistem berbasis komputer yang dirancang untuk membantu para profesional di bidang medis dalam membuat keputusan di lingkungan medis, seperti diagnosis, pemilihan terapi, pemantauan pasien, pencegahan penyakit, dan prognosis. “SPKK dapat membantu dokter untuk membuat keputusan medis yang kritis dengan memberikan rekomendasi tepat dan informatif,” kata Sri Kusumadewi. (*)
