Revitalisasi MA Cetak Lulusan Kompeten Akademik, Akhlak dan Keterampilan

Muhammad Wahid Jamil (kiri) saat memaparkan hasil penelitian desertasinya pada Ujian Terbuka di Program Doktor (S3) Studi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). (foto : screenshot/youtube/heri purwata)
Muhammad Wahid Jamil (kiri) saat memaparkan hasil penelitian desertasinya pada Ujian Terbuka di Program Doktor (S3) Studi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). (foto : screenshot/youtube/heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Revitalisasi Madrasah Aliyah (MA) dapat menghasilkan lulusan kompetensi di bidang akademik, akhlak, dan keterampilan. Sehingga lulusan tidak hanya mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi juga siap memasuki dunia kerja maupun berwirausaha.

Demikian hasil temuan penelitian desertasi Dr H Muhammad Wahid Jamil SAg, MPd yang diungkapkan pada Ujian Terbuka di Program Doktor (S3) Studi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). Wahid Jamil mengangkat judul desertasi ‘Evaluasi Kritis Revitalisasi Madrasah Aliyah Program Ketrampilan Daerah Istimewa Yogyakarta.’

Bacaan Lainnya

Desertasi tersebut berhasil dipertahankan di depan Dewan Penguji Program Doktor (S3) Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Wahid Jamil dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan berhak menyandang gelar Doktor. Muhammad Wahid Jamil adalah Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Kulonprogo, DIY.

Dewan Penguji terdiri dari Prof Dr Moch Nur Ichwan, SAg, MA, Ketua Sidang/Penguji; Dr Phil Munirut Ikhwan, Lc, MA, Sekretaris Sidang; Prof Dr Abdul Munip, SAg, MAg. Promotor/ Penguji; Prof Dr Zainal Arifin, SPdI, MSI Promotor/ Penguji; Sibawaihi, SAg, MSI, PhD, Penguji; Dr Nina Mariani Noor, SS, MA, Penguji; Prof Dr Hj Marhumah, MPd, Penguji; Dr Umi Faizah, MPd, Penguji; Dr Umi Faizah MPd, Penguji.

Lebih lanjut Wahid Jamil mengatakan hasil penelitiannya memperlihatkan dampak positif Madrasah Aliyah di masyarakat. Di antaranya, meningkatnya animo masyarakat, reputasi madrasah, prestasi dan apresiasi, sehingga semakin meningkat orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke MA.

Muhammad Wahid Jamil bersama isteri dan saudarinya. (foto : istimewa)

Penelitian ini, tambah Wahid Jamil, juga menemukan berbagai dampak yang tidak direncanakan. Di antaranya, meningkatnya beban kerja guru, padatnya aktivitas siswa, meningkatnya kebutuhan pembiayaan, serta munculnya ketimpangan antar madrasah dalam mengimplementasikan program revitalisasi. “Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari tercapainya tujuan formal. Tetapi juga dari keseluruhan dampak aktual yang ditimbulkannya,” tandas Wahid Jamil.

Penelitian ini, kata Wahid Jamil, dilakukan pada empat Madrasah Aliyah Negeri di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yaitu MAN 2 Kulonprogo, MAN 2 Yogyakarta, MAN 2 Bantul dan MAN 1 Sleman. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, dan diskusi kelompok.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Wahid Jamil merekomendasikan agar kebijakan revitalisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan tidak hanya difokuskan pada penguatan vokasional. “Tetapi juga pada pendidikan nilai-nilai keislaman dan mewujudkan identitas lulusan yang religius, berilmu, terampil, dan memiliki daya saing,” tandas Wahid Jamil. (*)