Prof Dian : Perlu Reframing Pembelajaran Fisika untuk Siapkan Calon Guru Unggul

Prof Dr Dian Artha Kusumaningtyas saat menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar. (foto : Humas UAD)
Prof Dr Dian Artha Kusumaningtyas saat menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar. (foto : Humas UAD)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NETProf Dr Dian Artha Kusumaningtyas, MPd Si mengusulkan perlu Reframing Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi untuk menyiapkan Calon Guru Fisika Unggul. Hal bertujuan agar lulusan sanggup menjawab tuntutan pasar kerja dan tantangan masyarakat modern.

Prof Dian Artha Kusumaningtyas mengungkapkan hal tersebut pada Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (18/4/2026). Prof Dian dikukuhkan menjadi Guru Besar sebagai Pakar Evaluasi Pembelajaran Fisika.

Bacaan Lainnya

Prof Dian dikukuhkan sebagai Profesor bersama tiga Guru Besar di Amphitarium Lantai 9 Gedung Utama Kampus 4 UAD Yogyakarta. Ketiga Guru Besar adalah Prof Dr Rika Astari, SS, MA, Ranting Ilmu/Kepakaran Bahasa dan Media; Prof Dr apt Wahyu Widyaningsih, SSi, MSi, Ranting Ilmu/Kepakaran Farmakologi dan Toksikologi; dan Prof Dr apt Nina Salamah, SSi, MSc, Ranting Ilmu/Kepakaran Autentikasi Herbal dan Analisis Halal.

Prof Dian Artha menjelaskan di era Revolusi Industri 4.0 dan digitalisasi, kurikulum dan pembelajaran fisika di universitas harus mengintegrasikan penguasaan ilmu dengan kompetensi global, kreativitas, kemampuan beradaptasi, literasi digital, dan kesiapan belajar sepanjang hayat. Hal ini dimaksudkan agar lulusan sanggup menjawab tuntutan pasar kerja dan tantangan masyarakat modern.

Di masyarakat, tambah Dian, telah berkembang sekolah unggulan berorientasi internasional, sehingga ekspektasi terhadap kompetensi guru fisika semakin meningkat. “Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi ajar. Tetapi Guru Fisika dituntut mampu mengintegrasikan literasi STEM (Science, Tecknology, Engineering, and Mathematics), membimbing riset siswa, memanfaatkan teknologi pembelajaran secara efektif, serta berkomunikasi dalam konteks akademik global,” kata Dian.

Saat ini, kata Dian, praktik penyiapan calon Guru Fisika Unggul di perguruan tinggi masih cenderung beroperasi dalam kerangka reproduktif. Lulusan telah memiliki kompetensi yang relatif baik, hanya pada aspek tertentu saja. Atau lulusan belum menunjukkan sintesis utuh antara kedalaman konseptual, kematangan pedagogik, dan kemampuan reflektif berbasis asesmen.

“Hal ini menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap paradigma penyiapan guru fisika. Reframing dalam kajian ini dimaknai sebagai pergeseran dari pendekatan linier menuju model kompetensi yang terintegrasi dan progresif,” harap Dian.

Prof Dian mengusulkan sebuah model penyegaran pembelajaran dengan judul ‘Model Penyiapan Calon Guru Fisika Unggul.’ Model ini dibangun melalui tiga lapisan kompetensi yaitu fondasi akademik, pengayaan global, dan legitimasi profesional. Fondasi akademik diterapkan pada jenjang sarjana pendidikan. Pengayaan Global mahasiswa sebagai diferensiasi strategis. Sedang Legitimasi Profesional melalui pendidikan profesi guru.

“Model ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual bagi reformasi LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dalam menghasilkan Guru Fisika yang adaptif, reflektif, dan berdaya saing internasional. Sehingga Guru Fisika tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar materi kurikulum nasional. Tetapi Guru Fisika juga sebagai mentor akademik yang mampu membimbing siswa memahami standar internasional, literatur global, serta pendekatan pembelajaran bilingual,” kata Dian. (*)