Media Mainstream Harus Berubah Sesuai dengan Ekosistem

Kombes Pol Ihsan, Hudono, dan Ipan Pranaskti saat Talkshow dengan tema Sesarengan Jaga Jogja dengan Informasi Sehat di Jogja TV, Rabu (11/3/2026). (foto : screenshotyoutube/heri purwata)
Kombes Pol Ihsan, Hudono, dan Ipan Pranaskti saat Talkshow dengan tema Sesarengan Jaga Jogja dengan Informasi Sehat di Jogja TV, Rabu (11/3/2026). (foto : screenshotyoutube/heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PWI DIY), Drs H Hudono SH, mengatakan media mainstream harus berubah dan menyesuaikan dengan ekosistem agar tidak terlindas media sosial (Medsos). Harapan ini dilontarkan karena semakin derasnya informasi di media sosial yang masih diragukan kebenerannya dan belum terkendali.

Hudono mengemukakan hal itu pada Talkshow dengan tema Sesarengan Jaga Jogja dengan Informasi Sehat di Jogja TV, Rabu (11/3/2026). Selain Hudono, juga hadir Kombes Pol Ihsan, SIK, CPHR, Kepala Bidang Humas Polda DIY, dan Ipan Pranashakti Pragolopati, Ahli Information Technology (IT) dan Penggiat Media Sosial dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Talkshow untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) dengan moderator Vira Maya Permatasari.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut Hudono mengatakan media meanstream telah memiliki kaidah jurnalistik sehingga informasi yang ditampilkan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan utama informasi media mainstream untuk menyebarkan informasi yang sehat, akurat, faktual, berimbang, dan pendidikan.

“Sedang media sosial sering digunakan untuk menyebarkan konten fitnah, pencemaran nama baik dan lain-lain. Konten ini bisa dijerat dengan UU ITE dan menjadi ranah kepolisian,” kata Hudono.

Sedang Ihsan mengatakan saat ini di dunia nyata, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kondisi kondusif. Namun di dunia maya, sangat ramai dengan berbagai macam informasi.

Hal ini disebabkan Yogyakarta yang meskipun penduduknya relatif sedikit, namun penggunaan internet sangat tinggi di Pulau Jawa. Bahkan tahun 2024, warga Yogyakarta menjadi pengguna internet tertinggi di Pulau Jawa.

“Media sosial itu lebih mengutamakan mengejar viral. Pernah sebetulnya, kejadian di Jawa Tengah, tetapi narasinya seperti di Yogyakarta. Sehingga menjadi viral,” kata Ihsan.

Sementara Ipan Pransakti mengatakan media sosial banyak mengupload foto atau video tanpa ada narasinya. Sehingga foto atau video tersebut bisa memicu kemarahan sebagian masyarakat yang tidak memahami konteksnya. “Misalnya, ada video aparat menonjoki seseorang tanpa narasi,” kata Ipan.

Menurut Ipan, seseorang merasa bangga bisa mengupload foto atau video yang pertama kali atau paling cepat di media sosial. Bahkan konten-konten tersebut tidak diberi narasi yang jelas, tempat peristiwanya, hari dan tanggal kejadiannya, dan lain-lain.

Selain itu, Ipan juga mengatakan saat ini banyak hoax yang tersebar di masyarakat melalui media sosial. Tetapi tingkat kepedulian masyarakat untuk melaporkan hoax itu rendah. Sebab mereka merasa prosesnya panjang atau khawatir tidak menghasilkan penyelesaian yang jelas.

Ipan berharap kebisingan informasi di media sosial dapat ditekan melalui peningkatan literasi digital masyarakat. Selain itu, penguatan peran media mainstream sebagai sumber informasi yang terpercaya. Sehingga diharapkan ruang informasi publik dapat lebih sehat dan mampu menjaga kondusivitas Yogyakarta. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *