Ahmad Luthfi : Digital Personal Branding Harus Berdampak Positif bagi Masyarakat

Ahmad Luthfi saat menyampaikan materi webinar Personal Branding untuk Mahasiswa Digital,' Sabtu (9/5/2026). (foto : istimewa)
Ahmad Luthfi saat menyampaikan materi webinar Personal Branding untuk Mahasiswa Digital,' Sabtu (9/5/2026). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Tuntutan personal branding di kalangan mahasiswa tidak lagi hanya sebatas arsip untuk mengejar popularitas. Namun konten-konten mahasiswa yang diunggah media digital harus merupakan identitas digital yang autentik, beretika, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Demikian diungkapkan Dr Ahmad Luthfi, SKom, MKom, Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika pada webinar ‘Personal Branding untuk Mahasiswa Digital,’ Sabtu (9/5/2026). Webinar diikuti mahasiswa Program Studi Informatika Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Ahmad Luthfi yang juga Dosen Jurusan Informatika FTI UII Yogyakarta menjelaskan personal branding di kalangan mahasiswa dinilai semakin bergeser ke arah pencitraan digital yang menekankan popularitas dan validasi media sosial. Di tengah budaya digital yang serba cepat, mahasiswa menghadapi tantangan berupa tekanan untuk terus tampil, mengejar engagement, hingga munculnya kesenjangan antara identitas Daring dan kehidupan nyata.

Lebih lanjut Ahmad Luthfi menjelaskan setiap aktivitas di ruang digital kini membentuk persepsi publik terhadap seseorang. Unggahan, komentar, hingga jejak digital lain tidak lagi sekadar arsip pribadi, tetapi menjadi bagian dari identitas profesional mahasiswa di masa depan.

“Setiap unggahan, komentar, dan aktivitas digital membentuk persepsi tentang siapa kita. Karena itu personal branding tidak boleh berhenti pada pencitraan semata, tetapi harus dibangun di atas nilai dan karakter,” kata Ahmad Luthfi.

Menurut Ahmad Luthfi, ada tiga persoalan utama dalam fenomena branding modern. Pertama, over-exposure dan pencitraan semu. Kedua, ketergantungan pada validasi berbasis jumlah likes dan followers. Ketiga, munculnya kesenjangan antara identitas online dan realitas kehidupan sehari-hari. “Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan identitas pada generasi digital,” kata Luthfi.

Sebagai solusi, kata Ahmad Luthfi, webinar ini menawarkan pendekatan personal branding berbasis perspektif insan ulil albab, yakni konsep yang mengintegrasikan zikir, fikir, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. “Pendekatan tersebut, branding tidak lagi dimaknai sebagai upaya membangun popularitas, melainkan representasi nilai, akhlak, kompetensi, dan kontribusi sosial,” tandas Ahmad Luthfi.

Karena itu, kata Ahmad Luthfi, mahasiswa digital perlu menggeser orientasi dari sekadar ‘terlihat’ menjadi ‘bermanfaat.’ Ia menilai ukuran keberhasilan personal branding bukan hanya pertumbuhan pengikut di media sosial, melainkan tingkat kepercayaan, kredibilitas, dampak, dan kemampuan berkolaborasi. “Kompetisi sejati mahasiswa digital bukan tentang siapa paling terlihat, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat,” kata Ahmad Luthfi.

Untuk mengimplementasinya, Ahmad Luthfi memperkenalkan tiga pilar utama personal branding mahasiswa digital, yaitu spiritual core, intellectual expression, dan social impact. Ketiga pilar tersebut diwujudkan melalui etika digital, kemampuan berpikir kritis, keberanian berbagi pengetahuan, hingga karya nyata yang memberi dampak bagi masyarakat.

Selain itu, webinar juga menekankan pentingnya etika digital, seperti melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya, menghindari toxic discourse, serta menjaga konsistensi antara identitas online dan kehidupan nyata. “Setelah mengikuti Webinar ini, mahasiswa diharapkan mampu membangun kehadiran digital yang tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga bernilai edukatif, etis, dan memberikan kontribusi positif di ruang digital,” harap Ahmad Luthfi. (*)