Capaian Pondok Pesantren Unggulan UII Sampai Usia 30 Tahun

Gedung PP Unggulan UII Putra Jl Selokan Mataram, Dabag, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. (foto : istimewa)
Gedung PP Unggulan UII Putra Jl Selokan Mataram, Dabag, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. (foto : istimewa)

Pondok Pesantren Unggulan Universitas Islam Indonesia (PP Unggulan UII) sudah berusia kurang lebih 30 tahun. PP Unggulan UII yang didirikan tahun akademik 1996/1997 dimaksudkan untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas tinggi, sejalan dengan tuntutan zaman, serta memiliki komitmen dan loyalitas yang kuat terhadap perkembangan institusi sepanjang masa hingga akhir zaman, sebagai sebuah institusi yang terus memberikan manfaat luas kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Pendirian PP Unggulan ini untuk menjawab cita-cita pendiri UII dan masyarakat yang merasakan UII belum bisa mewujudkan sistem pendidikan yang bisa memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai yang bersumber dari wahyu ilahi. Pendidikan yang melahirkan pemimpin-pemimpin umat dan bangsa yang berlandaskan prinsip-prinsip wasathiyah Islam dan rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) atau cendekiawan muslim berkarakter Ulil Albab.

Bacaan Lainnya
Gedung PP Unggulan UII Putri di Kampus Terpadu Jl Kaliurang km 14.5 Sleman. (foto : istimewa)

Tahun akademik 1996/1997, UII merekrut mahasiswa berprestasi pilihan untuk dididik dalam model pendidikan pesantren unggulan yang menyeimbangkan antara intelektualitas dan spiritualitas. UII menyediakan beasiswa penuh pada mahasiswa yang masuk program tersebut.

“Mahasiswa unggulan menerima bimbingan intensif di pesantren yang dipadukan dengan pendidikan sarjana reguler (S-1) di fakultas pilihan sesuai minat. Sehingga diharapkan menghasilkan lulusan yang sejalan dengan cita-cita UII,” kata Dr Suyanto Thohari, Pengasuh PP Unggulan UII Putra, di Yogyakarta, Sabtu (14/3/2026).

Sejak awal berdirinya, jelas Suyanto Thohari, PP Unggulan UII ini dirancang untuk mahasiswa putra. Namun pada tahun 2011, PP Unggulan UII mulai menerima mahasiswa putri. Mahasiswa putra ditempatkan di lahan hibah Perpustakaan Islam Yogyakarta di Jl Selokan Mataram, Dabag, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sedangkan mahasiswa putri ditempatkan di kompleks Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang km 14,5 Sleman.

“Hingga saat ini, PP Unggulan UII putera telah berjalan selama 30 tahun (1996 – 2026), sedangkan pesantren unggulan pesantren unggulan puteri telah berjalan selama 15 tahun (2011-2026),” kata Suyanto Thohari.

Salah satu prestasi santri putra. (foto : istimewa)

Dalam perjalanan sejarahnya, tambah Suyanto, terdapat dinamika tata kelola, dan juga kualitas input dan output. Ada masa dan generasi yang dianggap sangat sukses, namun ada yang dinilai kurang sukses. Namun benang merah yang dapat ditarik bahwa tata kelola yang disiplin dan input yang berkualitas baik akan melahirkan output dan outcome yang impresif dan mendekatkan perwujudan cita-cita pendiri, kebutuhan diferensiasi dan regenerasi.

Prestasi-prestasi yang telah diraih santri-santri PP Unggulan UII di antaranya mengikuti berbagai kejuaraan di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, santri juga mengikuti konferensi, mobilisasi, penulisan, dan publikasi.

Suyanto Thohari menambahkan sebaran alumni PP Unggulan UII saat ini sudah banyak. Mereka berkhidmah di berbagai lapangan pengabdian, sebagian besar di bidang akademik di berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Indonesia.

Salah satu prestasi santri putri. (foto : istimewa)

Bahkan, kata Suyanto, ada enam alumni telah meraih Guru Besar atau Profesor, jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi. Mereka sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB); UIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan; UIN Tulungagung, Jawa Timur; UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah; UIN Raden Mas Sahid Surakarta, Jawa Tengah; Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung.

Mereka juga ada yang menjadi peneliti ahli di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Tidak sedikit pula yang berkhidmad di Mahkamah Agung (MA), BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dan berbagai lapangan pengabdian lain di negeri ini,” kata Suyanto. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *