Metode SCOR Dapat Atasi Kendala Peternak Ayam Petelur

Puteri Handayani MT seusai wisuda. (foto : istimewa)
Puteri Handayani MT seusai wisuda. (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Selama ini, peternak ayam petelur menghadapi dua kendala yaitu ketidakmampuan memenuhi seluruh kuantitas pesanan pelanggan dan tingginya jumlah telur cacat. Itulah persoalan yang dihadapi CV Mandiri Ternak, salah satu usaha peternakan ayam petelur.

Untuk mengatasi persoalan tersebut perlu diterapkan Metode Supply Chain Operations Reference (SCOR) Racetrack 12.0. Metode tersebut dapat mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi keandalan rantai pasok, khususnya, komoditas telur ayam ras Grade B yang memiliki tingkat permintaan tertinggi.

Bacaan Lainnya

Demikian hasil penelitian Tesis Puteri Handayani, MT, Alumni Program Studi Magister Teknik Industri (Prodi MTI) Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Puteri Handayani mengangkat judul ‘Analisis Peningkatan Kinerja pada Peternakan Ayam Petelur menggunakan Metode SCOR RACETRACK (Studi Kasus CV Mandiri Ternak).’

Puteri Handayani menyusun tesis dibimbing Dr Imam Djati Widodo, M Eng Sc, Ketua Program Studi Manajemen Rekayasa FTI UII. Puteri Handayani telah diwisuda pada Periode I Tahun Akademik 2026/2027 di Kampus UII Terpadu Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026).

Putri menjelaskan, hasil pengukuran pada dua indikator kinerja yang belum mencapai target. Indikator ketepatan jumlah pengiriman pesanan (Delivery Quantity Accuracy) mencapai 99,50 persen, dengan kesenjangan sebesar 0,50 persen. Sedang kesesuaian pengiriman produk tanpa cacat (Orders Delivered Defect Free Conformance) mencapai 97,43 persen, atau masih memiliki kesenjangan 2,57 persen.

Putri menambahkan persoalan kualitas telur dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya, belum tersedianya standar operasional prosedur (SOP) pemanenan, frekuensi panen yang tidak konsisten, kondisi fasilitas kandang bambu yang mulai aus, serta suhu lingkungan yang panas sehingga memicu heat stress pada ayam.

Sedang ketidaktepatan pemenuhan kuantitas pesanan adalah belum adanya sistem peramalan permintaan (forecasting), ketiadaan persediaan pengaman (safety stock). Selain itu, keterbatasan kapasitas kandang, dan keterlambatan pasokan pakan dari pemasok.

“Peningkatan kinerja peternakan tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi. Tetapi juga membutuhkan pengelolaan proses operasional, perencanaan permintaan, pengendalian kualitas, dan koordinasi dengan pemasok secara terintegrasi,” kata Puteri Handayani.

Berdasarkan analisis tersebut, penelitian ini menghasilkan 10 proyek usulan perbaikan yang dikelompokkan ke dalam tiga skala prioritas. Untuk jangka pendek, Putri merekomendasikan penyusunan SOP jadwal pemanenan rutin dan penerapan sistem peramalan permintaan.

Pada tahap menengah, perbaikan diarahkan pada pelatihan Good Handling Practice, pembatasan kuota pesanan pelanggan, evaluasi ayam afkir, penerapan biosecurity yang lebih ketat, serta penyusunan nota kesepahaman dengan pemasok pakan terkait jadwal pengiriman.

Perbaikan jangka panjang mencakup modifikasi sirkulasi udara dengan penambahan blower, perbaikan fisik kandang atau pengadaan rak plastik, serta optimalisasi tata letak ruang kandang.

“Secara keseluruhan, portofolio proyek perbaikan tersebut diproyeksikan dapat menutup kesenjangan kinerja sebesar 3,07 persen. Dengan demikian, perusahaan diharapkan mampu meningkatkan keandalan rantai pasok sekaligus meminimalkan kerusakan produk dan meningkatkan kemampuan memenuhi pesanan pelanggan,” kata Puteri.

Sementara Dr Yuli Agusti Rochman, ST, M Eng, Ketua Program Studi Magister Teknik Industri FTI UII mengapresiasi penelitian Putri Handayani. Sebab penelitian ini memberikan kontribusi nyata keilmuan Teknik Industri dalam menjawab persoalan operasional dan meningkatkan kinerja rantai pasok di sektor peternakan.

Yuli Agusti Rochman berharap penelitian ini tidak berhenti sebagai pemenuhan persyaratan akademik untuk meraih gelar Magister Teknik. Tetapi juga dapat memberikan rekomendasi strategis yang aplikatif bagi dunia usaha. “Melalui pendekatan berbasis data dan analisis sistematis, MTI UII terus mendorong mahasiswa menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan industri. Juga memberikan solusi atas persoalan nyata, serta menghadirkan inovasi untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis,” harap Yuli Agusti Rochman. (*)