Gerry Katon Mahendra : Ada Krisis Kepercayaan pada Sekolah Dasar Negeri

Gerry Katon Mahendra, Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. (foto : istimewa)
Gerry Katon Mahendra, Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Tahun ajaran baru 2025/2026, banyak Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang hanya mendapatkan satu orang siswa atau siswi. Fenomena ini mencerminkan menurunnya minat orang tua menyekolahkan anak di Sekolah Dasar Negeri (SDN). Kecenderungan ini memperlihatkan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan sekolah negeri.

Demikian diungkapkan Gerry Katon Mahendra, Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta dalam rilisnya, Jumat (18/7/2025). Kondisi ini mencerminkan adanya krisis kepercayaan yang berimplikasi menurunnya minat masyarakat pada SD Negeri.

Bacaan Lainnya

Menurut Gerry Katon Mahendra, dari perspektif administrasi dan kebijakan publik, setidaknya terdapat tiga faktor utama penurunan minat pada SD Negeri. Pertama, kualitas layanan pendidikan yang dirasa belum merata (beda daerah, beda kualitas bahkan dalam lingkup satu kota/kabupaten).

Kedua, lemahnya inovasi manajemen sekolah dalam menjawab kebutuhan siswa, orang tua, dan tuntutan perkembangan zaman; dan ketiga, rendahnya kepercayaan publik/ stigma yang terbangun saat ini, akibat dari kurangnya promosi tentang keunggulan SD Negeri.

Selain itu, lanjut Gerry, ketimpangan promosi antara sekolah negeri dan swasta terlihat jelas. Ketimpangan tampak nyata terutama dalam konteks promosi dan peningkatan kualitas. Meskipun tidak semua, dapat dilihat sekolah swasta memiliki inisiatif dan modal yang kuat untuk melengkapi fasilitas dan peningkatan SDM Guru.

Promosi, kata Gerry, memang ada implikasinya, yakni biaya sekolah menjadi mahal. Namun, para orang tua tetap memasukkan anaknya ke SD swasta karena merasa hal tersebut sangat ‘worth it.’ Sedang sekolah negeri terikat regulasi dan birokrasi yang sering membatasi inovasi pelayanan.

“Orang tua murid saat ini juga sudah sangat aware dan ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas, aman, dan nyaman serta fasilitas yang baik. SD Negeri perlu berbenah secara menyeluruh, terutama fasilitas dan konsistensi kualitas pengajaran,” kata Gerry.

Saat ini, tambah Gerry, kebijakan mengatasi penurunan jumlah siswa di sekolah negeri belum begitu efektif. Memang sudah ada kebijakan zonasi yang secara teknis membuat persebaran siswa lebih merata. Namun, kebijakan zonasi saja tidak cukup, jika tidak diimbangi peningkatan kualitas sarana dan prasarana yang memadai.

“Orang tua murid lebih memilih yang berkualitas sekalipun membayar lebih mahal. Kata kuncinya adalah, harus ditambahkan juga kebijakan dan tentu alokasi anggaran yang memadai berkaitan peningkatan kualitas secara komprehensif,” kata Gerry.

Pemerintah Daerah, menurut Gerry, memiliki peran kunci untuk memastikan layanan pendidikan dasar tetap merata dan berkualitas. Karena itu, pemerintah daerah wajib melakukan pemerataan guru, meningkatkan fasilitas sekolah negeri, serta membantu sekolah yang kekurangan murid dengan kebijakan afirmasi dan promosi agar akses pendidikan tetap adil bagi semua.

“Dinas pendidikan dan sekolah perlu fokus pada peningkatan kualitas pengajaran, pembaruan fasilitas, serta membangun citra positif melalui komunikasi yang transparan dan aktif,” saran Gerry.

Gerry juga menekankan branding dan komunikasi publik dari sekolah negeri perlu ditingkatkan. Setidaknya sekolah negeri bisa menunjukkan keunggulan dan prestasi secara terbuka. Selain juga memanfaatkan media sosial sekolah, serta membangun komunikasi yang aktif dan positif dengan orang tua dan masyarakat sekitar.

“Strategi jangka pendeknya meningkatkan kualitas pembelajaran dan fasilitas sekolah negeri agar menarik perhatian masyarakat. Strategi jangka panjang, reformasi manajemen pendidikan dan inovasi kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan zaman agar tetap relevan,” harap Gerry. (*)