11 Kelompok Tampil di UII Festival Seni Pertunjukan Islami 2026

Rektor UII, Fathul Wahid saat membuka Festival Seni Pertunjukan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu, Selasa (12/5/2026). (foto : heri purwata)
Rektor UII, Fathul Wahid saat membuka Festival Seni Pertunjukan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu, Selasa (12/5/2026). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Festival Seni Pertunjukan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu, Selasa (12/5/2026). Festival yang diikuti 11 kelompok merupakan rangkaian dari Milad ke-83 yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Sebanyak 11 kelompok penampil terdiri Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Yayasan Badan Wakaf (YBW), Rektorat, Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB), Fakultas Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan Fakultas Hukum (FH).

Bacaan Lainnya

Sedang Dewan Juri terdiri dari Dr Labibah Zain MLIS, Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Praktisi Kesenian Teater EsKa; Prof Dr Muhammad Mukti MSn, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta serta Praktisi Kesenian Tradisi; dan Paksi Raras Alit, Pengasuh Sekolah Aksara Jawa, Pemusik, dan Penembang.

Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr Rizqi Anfanni Fahmi, SEI, MSI mengatakan Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 merupakan ruang ekspresi yang mempertemukan seni dengan kesadaran sosial, spiritual, dan ekologis. Berbagai penampilan seni dari unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta unit-unit di lingkungan UII akan menampilkan karya yang merepresentasikan harmoni dalam keberagaman dan semangat menjaga kehidupan.

“Festival ini juga akan menghadirkan penampilan spesial dari seniman dan budayawan yang membawa pesan reflektif tentang kemanusiaan, kebudayaan, dan keberlanjutan,” kata Rizqi Anfanni yang juga Dosen Program Studi Ekonomi Islam ini.

Lebih lanjut Rizqi Anfanni mengatakan pertunjukan seni ini dirancang dengan semangat keberlanjutan dalam pelaksanaannya. Panitia mendorong penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, pengurangan sampah plastik sekali pakai, efisiensi energi, serta keterlibatan peserta dalam aksi simbolik yang merepresentasikan komitmen bersama untuk merawat masa depan.

Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga gerakan budaya yang menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Rangkaian pertunjukan akan menampilkan karya seni dari berbagai elemen sivitas UII serta special performance dari kelompok seni dan komunitas budaya. Di antaranya, YKHC (YogyaKarta Hadroh Clan), Hadroh IKI UII, dan Mahasiswa Internasional.

“Kehadiran para penampil ini diharapkan dapat menghadirkan suasana festival yang inklusif, kolaboratif, dan penuh semangat kebersamaan lintas budaya,” kata Rizqi Anfanni.

Sementara Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 ada tiga hal yang diraih. Pertama, tentang visi dan misi. Dalam visi dan misi UII, seni dan budaya bukan pelengkap, tetapi hadir sebagai bagian penting dari pembentukan manusia yang utuh.

“Frasa ‘seni dan budaya’ kadang belum mendapatkan perhatian sebesar bidang-bidang lain. Festival ini menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tempat mengasah logika, tetapi juga ruang merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan,” kata Fathul.

Kedua, lanjut Fathul, tentang kolaborasi. Setiap tim penampil menghadirkan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Ini bukan sekadar syarat teknis, tetapi ruang perjumpaan yang sehat. Seni mencairkan hubungan yang formal, mendekatkan jarak psikologis, dan menghadirkan kebersamaan dalam suasana yang lebih hangat dan setara. Kampus yang sehat bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga kuat dalam relasi antarmanusianya.

Ketiga, kata Fathul, tentang inovasi. Seni memiliki hubungan erat dengan kreativitas dan pembaruan. Dalam bukunya menunjukkan bahwa ilmuwan atau peneliti yang memiliki kedekatan dengan dunia seni cenderung menghasilkan riset yang lebih berkualitas dan lebih kreatif. Karena seni melatih keberanian melihat kemungkinan baru, berpikir berbeda, dan keluar dari pola yang seragam. Kampus yang ingin melahirkan inovasi tidak boleh menjauh dari seni.

“Karena itu, Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 ini bukan sekadar hiburan. Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 ini adalah bagian dari ikhtiar membangun ekosistem kampus yang lebih humanis, kreatif, dan kolaboratif,” kata Fathul Wahid. (*)