Rektor UII : Alumni Jadilah Orang Paling Bersemangat Terus Belajar

Rektor UII menyerahkan ijazah kepada wisudawan yang didampingi orangtuanya. (foto : istimewa)
Rektor UII menyerahkan ijazah kepada wisudawan yang didampingi orangtuanya. (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid mengharapkan alumni jangan menjadi orang yang paling hebat di suatu ruangan. Tetapi alumni wajib berusaha menjadi orang yang paling bersemangat untuk terus belajar.

Rektor UII mengemukakan hal tersebut menyampaikan tersebut pada Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma di Auditorium KH Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Sabtu – Ahad (25-26/4/2026). Periode ini UII mewisuda sebanyak 766 lulusan dengan perincian, dua (2) dari jenjang Ahli Madya, tujuh (7) dari program Sarjana Terapan, 632 dari program Sarjana, 116 dari program Magister, dan sembilan (9) dari program Doktor.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut Rektor UII mengungkapkan Wisuda sering dianggap sebagai garis akhir dari perjalanan panjang pendidikan. Namun sesungguhnya, wisuda lebih tepat disebut sebagai titik awal. “Hari ini bukan tentang apa yang sudah Saudara selesaikan, tetapi tentang apa yang akan Saudara mulai,” kata Fathul Wahid.

Dunia setelah kampus, kata Fathul, adalah ruang ujian yang berbeda. Di kampus, Saudara diuji dengan soal. Di kehidupan nyata, Saudara diuji dengan tanggung jawab. Di kampus, Saudara dinilai dengan angka. Di kehidupan nyata, Saudara akan dinilai dengan kepercayaan. “Percayalah, dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kepintaran,” kata Fathul.

Saudara, tambah Fathul, akan segera menyadari kehidupan profesional bukan hanya tentang kemampuan memimpin, tetapi juga tentang kesiapan untuk dipimpin. Tidak semua orang langsung menjadi pemimpin. Bahkan sebagian besar perjalanan karier justru dimulai dari menjadi pengikut. Di sinilah karakter sering kali dibentuk tanpa disadari.

Organisasi yang sehat, lanjut Fathul, bukan hanya membutuhkan pemimpin yang baik. Ia juga membutuhkan pengikut yang baik. Karena kepemimpinan (leadership) yang kuat tanpa kepengikutan (followership) yang matang tidak akan menghasilkan organisasi yang kokoh.

“Izinkan saya menggunakan satu metafora sederhana. Kehidupan profesional itu seperti sebuah pendakian gunung. Dalam satu tim pendakian, memang ada pemimpin ekspedisi. Tetapi keberhasilan mencapai puncak tidak pernah ditentukan oleh satu orang. Ia ditentukan oleh kualitas seluruh tim. Ada yang memimpin arah. Ada yang menjaga ritme. Ada yang memastikan logistik. Ada yang membantu ketika ada yang kelelahan,” ujar Fathul.

Fathul juga menyarankan saat alumni UII dipercaya menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang mengayomi. Pemimpin yang kehadirannya membuat orang merasa lebih kuat, bukan lebih kecil. Pemimpin yang terlihat, bukan hanya terdengar. Pemimpin yang memberi contoh, bukan hanya memberi perintah.

“Kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan melalui keteladanan. Orang mungkin mendengar instruksi, tetapi mereka mempercayai contoh. Pemimpin yang baik juga tidak membangun kewibawaan melalui jarak, tetapi melalui integritas. Ia tidak mengelabui bawahan dengan agenda tersembunyi. Ia tidak mengatakan satu hal dan melakukan hal lain. Ia memahami bahwa transparansi bukan kelemahan, tetapi fondasi kepercayaan,” katanya. (*)