YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Tim Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan media pembelajaran inovatif bernama ‘Sodor Saga.’ Media ini dirancang untuk meningkatkan karakter kerja sama pada anak usia operasional konkret melalui perpaduan permainan tradisional dan board game edukatif.
Tim Mahasiswa UNY ini tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian (UKMP) berasal dari empat jurusan dan fakultas yang berbeda. Mereka adalah Ilmi Irmatussoleha dari Program Studi (Prodi) PGSD sebagai ketua tim. Sedang anggota tim Selfia Okniati Sirait (Teknik Industri), Alif Hafidz Ramadhani (Pendidikan Bahasa Inggris), Risma Trinandini (PG-PAUD), dan Isma Rani Tatsniyah (Pendidikan Akuntansi).
Mereka belum pernah bekerja sama sebelumnya dan kini tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Ide awal muncul dari kegelisahan kami melihat kurangnya karakter kerjasama siswa dalam pembelajaran sehari-hari, padahal sekolah-sekolah di Yogyakarta sudah banyak yang mengupayakan penguatan karakter,” kata Ilmi Irmatussoleha.
Keresahan tersebut, tambah Ilmi, diperkuat oleh hasil observasi awal di lapangan yang menunjukkan rendahnya kerjasama antar siswa sekolah dasar. “Dari situlah, tim mulai merancang solusi berbasis literatur dan pendekatan edukatif, hingga lahirlah Sodor Saga,” kata Ilmi.
‘Sodor Saga,’ lanjut Ilmi, diujicobakan di SD Muhammadiyah Prambanan dengan menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Berdasarkan hasil uji validitas ahli, pre-test dan post-test, serta angket dari siswa dan guru, media ini dinyatakan layak dan efektif untuk digunakan.
“Tantangan teknisnya lebih ke waktu karena pihak peneliti menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan juga subjek penelitiannya yang mendekati ujian sekolah. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi dengan berkoordinasi intensif bersama pihak sekolah dan mengatur waktu secara fleksibel,” kata Ilmi.
Inovasi tersebut, tidak hanya mendapat dukungan dari kampus, guru, dan siswa, Namun Sodor Saga juga mendapat atensi positif dari akademisi lain. “Kami bahkan mendapat DM dan komentar dari beberapa pendidik yang ingin mencoba media ini di sekolah mereka,” kata Alif.
Ke depan, tim berencana mengembangkan media ini lebih lanjut agar ramah digunakan oleh anak berkebutuhan khusus. “Kami ingin Sodor Saga tidak hanya terbatas untuk siswa reguler, tapi juga inklusif bagi semua kalangan,” tambah Risma.
Manfaat Sodor Saga, lanjut Ilmi, telah dirasakan langsung, baik oleh siswa yang mulai menunjukkan peningkatan dalam kerjasama, maupun guru yang terbantu dalam menyampaikan materi pembelajaran. Kartu misi yang disisipkan dalam permainan turut memperkaya konten edukatif yang disampaikan secara menyenangkan.
Ilmi menyampaikan penemuan Sodor Saga membutuhkan proses yang panjang. Karena itu, Ilmi berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda lainnya agar tidak takut gagal dalam berinovasi. “Teruslah berkarya, berinovasi, dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Masih banyak hal menarik yang bisa dieksplorasi dan dijadikan solusi nyata untuk berbagai masalah di masyarakat,” pesan Ilmi. (*)
