YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Sebanyak 13 tim menjadi finalis pada Festival Lomba Hadroh Banjari Tingkat Nasional bagi siswa-siswi SMA/SMK/MA Sederajat di Auditorium Gedung KHA Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia (FIAI UII), Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Milad ke-83 Universitas Islam Indonesia.
Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr Rizqi Anfanni Fahmi, SEI, MSI mengatakan Gema Selawat merupakan ruang apresiasi seni Islam bagi generasi muda, khususnya pelajar SMA/SMK/MA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia. Finalis yang telah lolos seleksi dan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Di antaranya, dari luar Pulau Jawa, termasuk dari Lampung dan Bengkulu.
“Kehadiran para finalis dari berbagai daerah menunjukkan bahwa seni hadroh banjari memiliki daya tarik kuat di kalangan pelajar. Seni hadroh banjari terus berkembang sebagai bagian dari tradisi dakwah, kreativitas, serta ekspresi keislaman,” kata Rizqi.
Rizqi menjelaskan, Gema Selawat merupakan upaya UII untuk memperkuat nilai religius, budaya, dan kebersamaan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap selawat, seni Islami, dan tradisi pesantren yang hidup di tengah masyarakat.
Selain menjadi ajang perlombaan, kata Rizqi, Gema Selawat juga membawa pesan penting tentang syiar Islam yang damai, kreatif, dan membangun karakter. Para peserta tidak hanya menampilkan kemampuan musikal, tetapi juga menunjukkan kekompakan, kedisiplinan, adab, dan semangat berkompetisi secara sehat.
“Panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda positif yang terus berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Gema Selawat diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang mencintai seni Islam, menjaga tradisi selawat, serta berperan aktif dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan di ruang publik,” kata Rizqi.
Sementara Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan Gema Selawat merupakan penanda kebahagiaan UII pada milad ke 83. Ini sebagai syiar kebaikan dengan wasilah sholawat dan cinta Rasullah serta cinta ajarannya. “Kita berharap kalau semua meneladani Rasullah, insya Allah dunia ini aman, tertib, ayem, tentrem. Karena Rasullah itu menghargai perbedaan, sesama, lintas suku, lintas agama. Kalau sifat itu kita teladani luar biasa,” harap Fathul. (*)
