Prodi Teknik Kimia UII Olah Limbah Masker Jadi Bahan Bakar

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Program Studi (Prodi) Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) mengolah limbah masker menjadi bahan bakar alternatif. Tim pengolah limbah masker terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Dekan FTI UII, Prof Dr Ir Hari Purnomo, MT, IPU yang didampingi Dr Arif Hidayat, ST, MT, dosen dan sekretaris Program Studi Teknik Kimia mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan, Rabu (22/9/2021). Pandemi Covid-19 terlah meningkatkan penggunaan masker dan limbahnya.

“Lonjakan penggunaan masker menciptakan permasalahan, yakni peningkatan jumlah limbah plastik sekali pakai. Studi terbaru memperkirakan setiap bulan digunakan 129 miliar potong masker wajah di seluruh dunia. Jika satu bulan terdiri atas 30 hari, maka penggunaan masker wajah sekali pakai sekitar tiga juta potong per menit,” kata Hari Purnomo.

Sampah masker yang melimpah akan menjadi lebih bermasalah jika dibuang sembarangan. Release Worldwide Wildlife Fund (WWF) melaporkan kekhawatiran pembuangan sampah masker yang salah. Jika hanya satu persen dari masker yang dibuang secara tidak benar, ini akan menghasilkan 10 juta masker per bulan yang tersebar di lingkungan.

Bila berat masing-masing masker sekitar empat gram, maka akan memerlukan dispersi lebih dari 40 ribu kilogram plastik di alam. “Prodi Teknik Kimia FTI UII, telah melakukan penelitian dan berhasil mengolah limbah masker medis menjadi bahan bakar alternatif,” kata Hari Purnomo. 

Saat ini limbah masker sekali pakai semakin banyak dan menyebabkan berbagai masalah. Di antaranya, penumpukan sampah di TPA, resiko penyebaran virus dan bakteri, potensi menghasilkan lindi yang berbahaya bagi lingkungan, serta sulitnya limbah masker untuk terurai secara alami.

Sedang Arif Hidayat menjelaskan limbah masker dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis. Proses pirolisis menghasilkan produk cair yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar minyak.
 
“Masker sekali pakai terbuat dari bahan polimer, terutama dari Polypropylene (PP) atau High-Density Poly Ethylene (HDPE). Pada tahap awal, limbah masker harus dipisahkan dari jenis sampah lainnya,” jelas Arif.
 
Sebelum diproses, tambah Arif, limbah masker di-desinfeksi untuk menghilangkan virus atau bakteri yang menempel pada masker. Proses ini dilakukan dengan penyemprotan disinfektan ke limbah masker. Limbah masker kemudian diproses di dalam tabung reaktor pirolisis.
 
Pirolisis sendiri merupakan proses pemanasan tanpa adanya oksigen di dalam ruangan tertutup yang akan mengubah bahan baku menjadi produk cairan dan padatan. Saat ini tabung reaktor pirolisis yang digunakan mempunyai volume lima liter dan mampu menampung limbah masker sebanyak satu kilogram. 

Setiap pemrosesan satu kilogram limbah masker akan menghasilkan produk cair sebanyak 500-600 mL. Analisis terhadap kandungan kimia juga sudah dilakukan dan didapatkan komponen penyusunnya hampir sama dengan senyawa hidrokarbon yang banyak terdapat di dalam BBM.
 
“Produk pirolisis yang berupa cairan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar minyak. Saat ini sedang dikembangkan tabung pirolisis yang menggunakan supply panas dari kompor gas untuk menghemat biaya,” kata Arif.

About The Author

Reply