Kholid Haryono : AI Bukan Pengganti Penilaian Manusia

Kholid Haryono, Dosen Jurusan Informatika FTI UII saat menyampaikan Webinar 'Decision Making di Era Artificial Intelligence,' Sabtu (6/6/2026). (foto : istimewa)
Kholid Haryono, Dosen Jurusan Informatika FTI UII saat menyampaikan Webinar 'Decision Making di Era Artificial Intelligence,' Sabtu (6/6/2026). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NETArtificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan bukan pengganti penilaian manusia terhadap permasalahan yang dihadapi setiap hari. Namun AI atau Kecerdasan Buatan hanya sebagai alat bantu yang harus tetap diverifikasi sebelum mengambil keputusan.

Kholid Haryono, ST, MKom, Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta mengemukakan hal tersebut pada webinar, Sabtu (6/6/2026). Webinar yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Informatika UII mengangkat tema ‘Decision Making di Era Artificial Intelligence.’

Bacaan Lainnya

Kholid Haryono menjelaskan saat ini manusia sudah hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan. Setiap hari, manusia mengambil banyak keputusan, mulai dari hal kecil hingga keputusan penting. Namun, keputusan manusia tidak selalu rasional sepenuhnya.

Sebab dalam mengambil keputusan, manusia memiliki keterbatasan informasi, waktu, dan kapasitas berpikir. Karena itu, manusia sering tidak memilih opsi yang benar-benar optimal, melainkan opsi yang dianggap ‘cukup baik’ atau satisficing.

“Dalam proses ini, manusia juga rentan terhadap bias berpikir, seperti anchoring bias, yaitu terlalu terpaku pada informasi awal, dan confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan sebelumnya,” kata Kholid Haryono.

Di era kecerdasan buatan, kata Kholid Haryono, tantangan pengambilan keputusan mengalami pergeseran. Dahulu, masalah utama adalah kelangkaan informasi sehingga manusia harus mencari dan mengumpulkan data sebanyak mungkin. “Saat ini, informasi justru melimpah sehingga tantangan utama adalah menyaring data yang relevan dan bermakna. AI hadir bukan hanya sebagai alat pencari informasi, tetapi juga sebagai sistem yang membantu merangkum, memahami, merekomendasikan, bahkan mengotomasi keputusan tertentu,” tandas Kholid.

Menurut Kholid Haryono, AI memiliki tiga peran utama dalam manusia mengambil keputusan yaitu menyediakan informasi, memberikan rekomendasi berdasarkan pola data, dan mengotomasi keputusan rutin. Namun Kholid mengingatkan penggunaan AI dalam mengambil keputusan tetap memiliki risiko.

Di antaranya, pertama, over-reliance yaitu terlalu percaya pada AI hingga berhenti berpikir kritis. Kedua, AI sering bekerja seperti black box, sehingga pengguna tidak selalu memahami alasan di balik jawaban atau rekomendasinya. Ketiga, AI dapat mewarisi bias dari data pelatihan sehingga keputusan yang dihasilkan juga dapat mengandung bias. “Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti penilaian manusia, melainkan sebagai alat bantu yang harus tetap diverifikasi,” tandasnya.

Kholid Haryono mengingatkan dalam mengambil keputusan, manusia menggunakan model proses rasional yang terdiri atas lima langkah. Kelima langkah adalah mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, menyusun alternatif, mengevaluasi dan memilih, serta meninjau hasil.

Selain itu, tambah Kholid, terdapat berbagai teknik pendukung keputusan. Di antaranya, decision matrix untuk pembobotan kriteria, decision tree untuk memetakan konsekuensi, metode kuantitatif seperti AHP, TOPSIS, dan SAW, serta Eisenhower Matrix untuk membedakan hal penting dan mendesak.

“AI dapat memperkuat proses ini melalui tangga analitik, mulai dari deskriptif untuk menjawab ‘apa yang terjadi,‘ diagnostik untuk menjelaskan ‘mengapa terjadi,’ prediktif untuk memperkirakan ‘apa yang akan terjadi,’ hingga preskriptif untuk menyarankan ‘apa yang sebaiknya dilakukan,’ kata Kholid.

Kolaborasi manusia dan AI menjadi kunci pengambilan keputusan yang lebih baik. AI unggul dalam menemukan pola, memproses data dalam jumlah besar, dan bekerja cepat. Sedang manusia unggul dalam memahami konteks, mempertimbangkan nilai dan etika, serta menanggung tanggung jawab atas keputusan.

Studi kasus mahasiswa PJJ menunjukkan bahwa di era AI, pilihan tidak selalu harus berbentuk ‘atau,’ tetapi dapat menjadi ‘dan.’ Mahasiswa tidak harus selalu memilih antara kuliah, bekerja, atau mengambil peluang lain. Tetapi dengan fleksibilitas Program Studi PJJ UII dan bantuan AI, berbagai pilihan dapat dikombinasikan.

Kata Kholid, AI mempercepat, memberdayakan, dan memperkaya proses pengambilan keputusan. Namun, tanggung jawab akhir tetap berada pada manusia. Prinsip praktis yang perlu diterapkan adalah menggunakan AI untuk memperluas pilihan, menanyakan asal dan kualitas data, memverifikasi rekomendasi sebelum dieksekusi, serta tetap mengambil keputusan dengan pertimbangan nilai dan keberanian bertanggung jawab. “Dengan demikian, AI sebaiknya berada ‘di tangan’ manusia sebagai alat bantu, bukan ‘di atas’ manusia sebagai pengganti keputusan,” katanya. (*)