YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Investigasi artefak digital smartwatch dapat mengetahui berbagai jenis data seseorang. Di antaranya, riwayat detak jantung, pola tidur, aktivitas fisik, dan log aplikasi yang dapat diakses dan dianalisis untuk kebutuhan investigasi digital. Bahkan berdasarkan artefak yang telah ditemukan dapat menjadi bahan penyusun untuk membangun linimasa yang cukup akurat terkait aktivitas terakhir pengguna dan lingkungan di sekitarnya.
Demikian penelitian tesis Rohsan Nur Marjianto, Alumni Program Studi Magister Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia FTI UII Yogyakarta yang dipaparkan kepada wartawan secara virtual, Rabu (1/7/2026). Rohsan Nur Marjianto mengangkat judul tesis ‘Investigasi Artefak Digital pada Smartwatch Berbasis WearOS Android’ di bawah bimbingan Dr Ahmad Luthfi, SKom, MKom, yang juga Manajer Akademik Keilmuan Program Studi Magister Informatika FTI UII.
Rohsan Nur Marjianto menjelaskan Internet of Things (IoT) telah menjadi bagian dari banyak aspek kehidupan, transportasi, pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, dan perkotaan. Salah satu IoT yang wearable device adalah smartwatch.
Penelitian ini bertujuan menginvestigasi artefak digital yang dihasilkan oleh perangkat smartwatch berbasis WearOS Android. Fokus utama penelitian pada proses koleksi data dan penerapan teknik forensik digital. “Perangkat yang digunakan dalam studi ini adalah smartwatch Samsung Galaxy Watch 5 yang terhubung dengan smartphone Samsung S22,” kata Rohsan Nur Marjianto.
Prosedur akusisi menggunakan kerangka kerja investigasi forensik Integrated Digital Forensic Investigation Framework for an IoT-Based Ecosystem (IDFIF-IoT). Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa metode yaitu eksplorasi file system dengan Android Debug Bridge (ADB), physical forensics, dan koleksi data untuk memperoleh file log, database, dan konfigurasi sistem yang relevan.
“Data mentah berbentuk file CSV dan JSON, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan data science untuk mengidentifikasi hubungan antar data, aktivitas pengguna, serta potensi nilai forensik dari setiap artefak,” jelas Rohsan Nur Marjianto.
Hasil penelitian menghasilkan berbagai jenis data seperti riwayat detak jantung, pola tidur, aktivitas fisik, dan log aplikasi dapat diakses dan dianalisis untuk kebutuhan investigasi digital. Berdasarkan artefak tersebut menjadi bahan penyusun untuk membangun linimasa yang cukup akurat terkait aktivitas terakhir pengguna dan lingkungan disekitarnya.
Manfaat penelitian ini, kata Rohsan yang meraih IPK 3,79, dapat digunakan oleh peneliti bidang forensik digital lain untuk dapat mengembangkan metode akusisi yang lebih baik dan efisien. “Selain itu, dapat digunakan investigator forensik sebagai referensi dalam menangani barang bukti berupa smartwatch. Juga berguna mendukung forensik kedokteran,” katanya. (*)
