Investasi Inteligen Bisnis Admisi Universitas Permudah Ambil Keputusan

Kholid Haryono saat memaparkan hasil penelitian desertasi kepada wartawan secara virtual, Jumat (31/7/2026). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Investasi Inteligen Bisnis dalam penerimaan mahasiswa baru (Admisi) perguruan tinggi dapat mempermudah ciptakan strategi jitu untuk menarik calon mahasiswa baru. Investasi Inteligen Bisnis dapat menggeser keputusan berdasarkan intuisi menuju kebijaksanaan dengan didukung data yang tepercaya, relevan, dan mudah ditafsirkan.

Itulah benang merah desertasi Dr Kholid Haryono, ST, MKom, Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta yang dipaparkan kepada wartawan secara virtual, Jumat (31/7/2026). Saat memaparkan hasil penelitian, Kholid Haryono didampingi Dr Ir Raden Teduh Dirgahayu, ST, MSc, Ketua Jurusan Informatika FTI UII.

Bacaan Lainnya

Kholid Haryono mengangkat judul desertasi ‘Prinsip-Prinsip Desain Inteligen Bisnis pada Institusi Pendidikan Tinggi Menggunakan Pendekatan Penelitian Tindakan. Penelitian Studi Kasus: Pengambilan Keputusan pada Domain Admisi di Institusi Pendidikan Tinggi (IPT).’ Kholid Haryono merupakan lulusan kelima dari Program Studi Doktor Rekayasa Industri, FTI UII, pada Selasa (28/7/2026).

Kholid Haryono menjelaskan persaingan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) saat ini sangat ketat. Sebagian besar PTS mengalami penurunan jumlah mahasiswa dan ini berakibat pada kelangsungan sebuah perguruan tinggi.

Karena itu, Kholid Haryono memandang penting untuk mengembangkan Investasi Inteligen Bisnis Admisi untuk memudahkan pengambilan keputusan. Selama ini, pengambilan keputusan pada domain penerimaan mahasiswa baru (admisi) di perguruan tinggi bersifat dinamis.

“Pengambilan keputusan melibatkan banyak pemangku kepentingan lintas level organisasi, dan sering terkendala keterbatasan informasi serta waktu. Sehingga keputusan-keputusan penting seperti penetapan nilai ambang batas kelulusan, kuota, dan waktu penutupan pendaftaran masih banyak bergantung pada intuisi,” kata Kholid.

Menurut Kholid, penelitian ini mengembangkan artefak Inteligen Bisnis (IB) untuk mendukung pengambilan keputusan admisi di sebuah universitas swasta di Indonesia menggunakan pendekatan Penelitian Desain Tindakan (Action Design Research/ADR). Penelitian ini juga memformalkan pembelajaran dari proses pengembangannya menjadi prinsip-prinsip desain yang dapat digunakan oleh institusi pendidikan tinggi lain dengan tantangan serupa.

Penelitian ini, tambah Kholid, menggunakan Teori Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality Theory) dan Teori Salience Pemangku Kepentingan (Stakeholder Salience Theory) untuk memetakan dua puluh jenis keputusan admisi. Selain itu, ada empat model pengambilan keputusan (heuristik, kolaboratif, analitis, dan intuitif) yang digunakan pemangku kepentingan dalam praktik sehari-hari.

Artefak IB dikembangkan dan diujicobakan secara nyata melalui empat iterasi (Alpha, Beta, Gamma, Delta). Kemudian dievaluasi dengan pengujian fungsional, Importance-Performance Analysis, System Usability Scale, dan wawancara evaluatif bersama pimpinan universitas, kepala bidang admisi, dan ketua program studi. “Pada iterasi akhir, seluruh tiga puluh satu fitur artefak dinilai berada pada kondisi penerimaan pengguna paling ideal, dengan skor kebergunaan sistem (usability) sebesar 84,4 dari skala 100 atau tergolong ‘sangat baik,’” kata Kholid.

Penelitian ini menghasilkan 12 prinsip desain dalam pengembangan IB (Design Principles/DP-1 hingga DP-12) yang mencakup aspek kepercayaan data, arsitektur informasi berbasis keputusan, tata kelola kebijakan yang dapat ditelusuri, visualisasi yang bermakna bagi pengguna, hingga mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan. Prinsip-prinsip ini memberikan kontribusi teoretis berupa pengetahuan desain yang bersifat preskriptif, kontribusi metodologis berupa penerapan ADR secara menyeluruh pada konteks admisi perguruan tinggi. “Selain itu, juga kontribusi praktis berupa panduan konkret bagi perguruan tinggi lain untuk membangun sistem IB yang mendukung keputusan admisi secara lebih cepat, akurat, dan akuntabel,” katanya.

Penelitian ini, tambah Kholid, juga memberikan gambaran tantangan utama pengambilan keputusan admisi secara empiris. Di antaranya, keterbatasan akses informasi yang tersebar lintas sistem, keterbatasan kapasitas kognitif pengguna dalam memahami banyak indikator sekaligus, serta tekanan waktu yang melekat pada sifat siklikal proses penerimaan mahasiswa baru.

Penelitian juga memetakan 20 jenis keputusan admisi perguruan tinggi. Keputusan tersebut dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok dengan empat model pengambilan keputusan dominan, yaitu heuristik, kolaboratif, analitis, dan intuitif, tergantung pada tingkat keterbatasan informasi dan kognitif yang dihadapi setiap pengambil keputusan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *