SLEMAN – Tim pengabdian masyarakat Universitas Islam Indonesia (UII) mendampingi para guru Taman Kanak-kanak (TK) Sultan Agung UII, lembaga di bawah naungan Yayasan Badan Wakaf UII, di Dusun Nglanjaran, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Pendampingan ini membantu guru memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak, tanpa meninggalkan pendidikan karakter islami.
Salah satu kegiatan dalam pendampingan yakni workshop bertema “Model Pendampingan Guru Berbasis Ethical Artificial Intelligence”, Sabtu, 31 Oktober 2026 di Gedung KHA Wahid Hasyim Fakultas Ilmu Agama Islam UII.
Pengembangan Model Pendampingan Guru Berbasis Ethical Artificial Intelligence berjalan melalui Skema Pengabdian Masyarakat Unggulan Yayasan Badan Wakaf (SPMU YBW) selama enam bulan. Tim dipimpin Dr. Dra. Sri Haningsih, M.Ag, bersama Siti Latifah Mubasiroh, S.Pd., M.P, keduanya dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, juga Dr. Moh. Solikul Hadi, M.Pd., dosen STAIM Yogyakarta. Dalam tim juga turut serta dua mahasiswa PAI UII, Meyla El-Haqq Fadhila Rabbany dan Muhamad Rahmadhani.
Dalam workshop, Dr. Sri Haningsih sampaikan materi bertema “Strategi Pembelajaran Penuh Makna untuk Meningkatkan Kompetensi Guru TK”, sebagai upaya mengajak guru merenungkan apakah anak-anak merasa bahagia ketika belajar bersama mereka. Menurutnya, guru TK tidak sekadar mengenalkan huruf dan angka, tetapi membangun fondasi kepribadian, karakter, dan kecintaan anak pada belajar. Pendekatan yang ditawarkan disebut joyful, meaningful, reflective learning, yakni pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan reflektif.
Dalam materinya, ia menegaskan bahwa AI boleh membantu guru menyiapkan bahan ajar, tetapi sentuhan kemanusiaan, kasih sayang, dan keteladanan guru tidak boleh tergantikan. “Anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan, tetapi akan mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa dihargai, dicintai, dan bahagia ketika belajar,” demikian salah satu pesan kunci dalam paparannya.
Untuk memberi gambaran pembelajaran bermakna, pemateri membandingkan dua situasi. Pada yang pertama, anak hanya duduk mendengarkan penjelasan tentang tanaman. Pada yang kedua, anak diajak keluar kelas untuk menyentuh tanah, menanam biji, dan menyiram. Pengalaman kedua tidak hanya mengenalkan tanaman, tetapi juga melatih tanggung jawab, kerja sama, kesabaran, dan kasih sayang pada ciptaan Allah.
Selain materi tersebut, program diarahkan pada tiga kompetensi: digital, pedagogis, dan Ethical-Islamic AI. Guru dilatih menggunakan AI untuk menyusun media, cerita, dan permainan sederhana, lalu menyesuaikannya dengan tahap perkembangan anak usia dini. Mereka juga dibiasakan memeriksa keluaran AI, menjaga privasi anak, memperhatikan hak cipta dan bias, serta memastikan isinya selaras dengan nilai Islam. Prinsip pemeriksaan ini dikaitkan dengan tabayyun, yakni verifikasi informasi sebagaimana diajarkan dalam Al Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6.
Berdasarkan wawancara pra-survei dengan guru dan Kepala TK Sultan Agung UII, Aty Latifah, ST, M.Pd, seluruh guru berstatus guru kelas yang mengampu semua kegiatan pembelajaran. Akibatnya, perencanaan dan evaluasi cenderung berjalan sendiri-sendiri per kelas, sehingga sinergi dengan visi dan misi lembaga belum optimal. Tim menilai persoalan utama bukan sekadar literasi digital, melainkan kesiapan guru mengintegrasikan teknologi secara pedagogis, etis, dan islami.
Dengan alasan efektifitas pendampingan, pelatihan satu kali dianggap tidak cukup maka program memakai metode Participatory Action Learning and Empowerment (PALE) yang menempatkan guru sebagai mitra pengembang model. Alurnya berupa siklus assess, train, mentor, act, reflect, dan improve. Guru memetakan kemampuan awal, mengikuti workshop, mencoba menyusun rancangan pembelajaran berbasis AI, menerapkannya di kelas, lalu berefleksi bersama. Keberhasilan diukur melalui pre-test dan post-test, penilaian produk, observasi praktik, wawancara, dan refleksi guru.
Program menargetkan model pendampingan Ethical AI, panduan dan contoh prompt pembelajaran, rubrik validasi keluaran AI, serta perangkat pembelajaran berkarakter islami. Luaran wajib lainnya mencakup artikel di jurnal terakreditasi SINTA, artikel di media sosial, standar prosedur operasional (SOP) pembelajaran berbasis active learning, dan presentasi di seminar nasional Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UII.
Dua mahasiswa PAI turut membantu administrasi, pengolahan data, dan dokumentasi video, sehingga kegiatan ini juga menjadi ruang belajar pengabdian bagi mahasiswa. Tim berharap guru mampu memakai AI secara kritis dan bertanggung jawab tanpa menggeser peran mereka sebagai pendidik dan teladan. (IPK)
