Prof Widodo Brontowiyono, Guru Besar UII ke 27

Guru Besar
Prof Widodo Brontowiyono (kanan) menerima SK Guru Besar dari Rektor UII, Prof Fathul Wahid, Selasa (11/10/2022). (foto: screenshotyoutube/heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Widodo Brontowiyono, dosen tetap Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (11/10/2022), menerima Surat Keputusan pengangkatan menjadi Guru Besar Lingkungan. SK Pengangkatan Guru Besar dari Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi (Mendikbudristek) diserahkan Kepala LLDikti V Prof drh Aris Junaidi kepada Rektor UII, Prof Fathul Wahid ST, MSc, PhD dan diteruskan ke Prof Widodo Brontowiyono.

Fathul Wahid mengatakan bertambahnya satu guru besar, kini UII memiliki 27 orang profesor. “Saat ini dosen bergelar profesor sudah 3,4 persen dari 790 dosen. Cacah profesor di LLDikti (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi) Wilayah V ada 139 maka UII menjadi rumah bagi 19,4 persen di antaranya. Belum tinggi, tetapi tetap harus kita syukuri,” kata Fathul Wahid.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan salah satu isu global yang menjadi perhatian dunia, adalah perubahan iklim. Perubahan cuaca ini akan mempengaruhi produksi pangan hingga kenaikan permukaan air laut yang meningkatkan resiko banjir.

“Dampak perubahan iklim sangat dahsyat dan berskala global. Penyebabnya, yang paling banyak disebut adalah gas rumah kaca atau green house gas. Yaitu gas yang menjebak panas di atmosfir bumi,” kata Fathul Wahid.

Rektor UII, Prof Fathul Wahid. (foto : screenshotyoutube/heri purwata)

Salah satu kontributor rumah kaca adalah menghasilkan emisi karbon dioksida (Co2). Gas ini merupakan hasil dari aktivitas manusia, salah satunya pembakaran bahan bakar fosil yang kita gunakan sehari-hari dengan beragam nama, bensin, solar, pertalite, pertamax, dan lain-lain.

“Pandemi Covid-19 mengurangi gas emisi akibat berkurangnya aktivitas manusia. Tetapi ini hanya sementara. Di sini, peran manusia sangat nyata baik menjaga atau merusak ekosistem lingkungan. Bahkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan SDG’s yang dikawal PBB, empat di antaranya sangat erat terkait dengan isu lingkungan, termasuk kehidupan di bawah air, kehidupan di atas tanah, air bersih, dan sanitasi,” katanya.

Komitmen dunia, kata Fathul Wahid, tetap menjaga panas agar berada di bawah 2 derajat Celsius dibanding suhu sebelum masa industrial. Sejak 1980 – 2012, rata-rata suhu global bumi naik 0,85 derajat Celsius. Ini sengaja dibuat tetap di bawah 2 derajat Celsius, dan terakhir paling tinggi 1,5 derajat Celsius.

Karena pemanasan global, tambah Fathul, permukaan air laut bertambah rata-rata 19 sentimeter akibat melelehnya es di kutub. Diramalkan kenaikan permukaan air laut, 24-30 Cm, pada 2065 dan 40-63 Cm di tahun 2100.

“Kita bisa membayangkan bagaimana nasib daratan yang dihuni manusia jika perubahan iklim ini tidak dimitigasi. Semua ini merupakan gambaran nyata dari dampak perubahan iklim. Kontribusi manusia sangat nyata, dan yang bisa menyelamatkan juga kita manusia,” tandasnya.

Karena itu, Fathul Wahid berharap semua orang bisa berkontribusi secara optimal dalam gerakan global ini. “Kita berharap Prof Widodo Brontowiyono bisa menjadi garda terdepan dan muadzim yang melantangkan pesan-pesan untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan untuk menjaga kita terus sadar dan waspada,” harapnya. (*)