Dekan Miliki Tugas Wujudkan UAD sebagai Community Services University

Rektor UAD, Prof Muchlas saat melantik 11 Dekan Periode 2026-2030 di Kampus 4 Yogyakarta, Selasa (4/8/2026). (foto : heri purwata)
Rektor UAD, Prof Muchlas saat melantik 11 Dekan Periode 2026-2030 di Kampus 4 Yogyakarta, Selasa (4/8/2026). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Prof Dr Muchlas MT mengatakan Dekan Periode 2026-2030 memiliki tugas untuk mewujudkan milestone pertama UAD sebagai Community Services University. Yaitu transformasi dan implementasi pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan pendidikan, penelitian, serta dijiwai oleh nilai nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Rektor UAD mengemukakan hal tersebut saat melantik 11 Dekan periode 2026-2030 di Amphitarium Kampus 4 UAD lantai 9, Selasa (4/8/2026). Rektor UAD juga mengharapkan agar para dekan langsung bekerja keras untuk mempertahankan akreditasi institusi Unggul yang akan dilakukan reakreditasi pada tahun 2027.

Bacaan Lainnya

Prof Muchlas menjelaskan UAD telah menetapkan arah pengembangannya sebagai Community Services University. Pilihan ini merupakan jati diri UAD bahwa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus terintegrasi dalam menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat, Persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan.

Komitmen tersebut, kata Rektor UAD, telah dituangkan dalam Rencana Strategis Universitas Ahmad Dahlan 2025 2045 yang disusun dalam lima milestone pengembangan. Kelima milestone tersebut merupakan tahapan yang saling berkesinambungan untuk mengantarkan UAD menjadi universitas yang unggul, inovatif, dan berdampak di tingkat global pada tahun 2045.

“Para dekan yang hari ini dilantik mengemban tanggung jawab strategis untuk mengawal pencapaian milestone pertama, yaitu transformasi dan implementasi pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan pendidikan, penelitian, serta dijiwai oleh nilai nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” kata Rektor UAD.

Menurut Prof Muchlas, integrasi ini menjadi pembeda UAD dengan banyak perguruan tinggi lainnya. UAD menekankan pada pendidikan yang melahirkan solusi, penelitian harus menjawab kebutuhan masyarakat. Selain itu, pengabdian kepada masyarakat harus menjadi ruang implementasi ilmu pengetahuan sekaligus media dakwah Islam Berkemajuan.

“Kami berharap setiap fakultas mampu menerjemahkan semangat tersebut ke dalam program program yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak. Sehingga caturdarma perguruan tinggi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan kemajuan bangsa,” harap Rektor UAD.

Untuk mewujudkan visi UAD sebagai Community Services University, Rektor mengajak para dekan memfokuskan kepemimpinannya pada lima agenda strategis. Pertama, mentransformasikan caturdarma perguruan tinggi yang terintegrasi dan berdampak. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam menghasilkan inovasi dan solusi bagi persoalan masyarakat. Sejalan dengan milestone pertama Renstra UAD 2025–2045, transformasi pengabdian kepada masyarakat harus menjadi penggerak utama yang mengintegrasikan pembelajaran dan penelitian serta dijiwai oleh nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Kedua, membangun budaya akademik yang unggul dan adaptif. Fakultas harus menjadi pusat pembelajaran yang mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran berbasis proyek, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial secara etis, bertanggung jawab, dan tetap menempatkan dosen sebagai pendidik sekaligus pembina karakter.

Ketiga, memperkuat riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Riset harus menghasilkan publikasi yang berkualitas, kekayaan intelektual, inovasi, dan hilirisasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pada saat yang sama, percepatan pengembangan dosen berkualifikasi doktor, lektor kepala, dan guru besar harus terus menjadi prioritas agar kapasitas akademik UAD semakin kokoh dan berkelanjutan.

Keempat, meningkatkan reputasi dan jejaring internasional. Kerja sama internasional harus diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama, publikasi bersama, mobilitas dosen dan mahasiswa, visiting professor, serta berbagai program akademik yang memperkuat reputasi global Universitas Ahmad Dahlan.

Kelima, mewujudkan tata kelola fakultas yang profesional, berkelanjutan, dan berintegritas. Pengelolaan fakultas harus berbasis data, menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi, disertai upaya memperluas sumber pendanaan, membangun kemitraan yang produktif, serta mengembangkan unit-unit usaha berbasis keunggulan ilmu pengetahuan.

“Seluruh ikhtiar tersebut harus dilandasi oleh nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai ruh kepemimpinan di Universitas Ahmad Dahlan,” kata Prof Muchlas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *