Penulis: Widodo Brontowiyono, Guru Besar Teknik Lingkungan UII
Puji syukur, Selasa, 31 Maret 2026, berkesempatan hadir dalam suasana hangat Syawalan Keluarga Besar UII, sekaligus mendapatkan pencerahan dari ceramah dokter spesialis syaraf, dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S. (dosen FK UII dan Ketua PP. Muhammadiyah). Ceramah disampaikan secara santai dan sesekali dengan humor, tetapi sarat makna dan pelajaran. Dalam pencerahannya, dr. Agus juga menyampaikan dukungan data dan analisa akademik yang sangat kuat. Salah satu poin yang cukup membekas adalah pernyataan beliau bahwa silaturahmi, terutama yang dilakukan secara langsung, tatap muka (face to face) bukan hanya baik untuk hati, tetapi juga terbukti menyehatkan tubuh dan bahkan berkaitan dengan umur panjang.
Awalnya terdengar sederhana, bahkan mungkin “klise”. Namun ketika ditarik ke ranah ilmiah, ternyata pernyataan itu memiliki dasar yang kuat. Salah satu penelitian yang sering dirujuk adalah Harvard Study of Adult Development, riset longitudinal yang dimulai sejak 1938 di Harvard University. Studi ini dikenal luas karena melacak kehidupan ratusan orang selama puluhan tahun. Salah satu penelitinya, Robert Waldinger, menyimpulkan sesuatu yang sangat sederhana namun mendalam: hubungan sosial yang baik adalah kunci utama kebahagiaan dan kesehatan, bahkan lebih penting daripada kekayaan atau ketenaran.
Lebih jauh lagi, hubungan sosial yang hangat terbukti menurunkan risiko depresi, menjaga fungsi kognitif di usia tua, dan mengurangi risiko penyakit kronis. Sebaliknya, kesepian justru disebut-sebut memiliki dampak kesehatan yang setara dengan merokok.
Temuan ini bukan hanya dari Harvard. Di Eropa, termasuk Italia, negara yang terkenal dengan budaya keluarga yang kuat, berbagai studi menunjukkan bahwa komunitas dengan ikatan sosial erat memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi. Fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep social cohesion, di mana interaksi langsung antar manusia menciptakan rasa aman, makna hidup, dan stabilitas emosional.
Lalu kita bertanya: bukankah ini semua sudah lama diajarkan dalam Islam sejak 14 abad lalu?
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa menjaga silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Ini bukan sekadar janji spiritual, tetapi kini semakin bisa dipahami secara ilmiah. Ketika seseorang bersilaturahmi, ia sebenarnya sedang “mengobati” dirinya sendiri, mengurangi stres, menumbuhkan hormon kebahagiaan, dan memperkuat sistem imun.
Di Indonesia, tradisi ini menemukan bentuknya yang khas: Syawalan. Setelah Ramadhan, orang-orang berbondong-bondong melakukan mudik, berkumpul dengan keluarga besar, menghadiri reuni, atau sekadar saling berkunjung. Ada yang menyebutnya halal bihalal, ada pula yang mengemasnya dalam pengajian, syawalan trah, bahkan temu alumni.
Semua itu, jika direnungkan, bukan sekadar tradisi sosial. Ia adalah “ritual kesehatan” yang sering kita jalani tanpa sadar.
Bayangkan seseorang yang setahun penuh disibukkan pekerjaan, tekanan hidup, dan rutinitas yang kering. Lalu ia pulang, duduk bersama orang tua, bercengkerama dengan saudara, tertawa bersama teman lama. Dalam momen itu, ada pelepasan emosi, ada rasa diterima, ada energi baru yang tidak bisa digantikan oleh pesan WhatsApp atau pertemuan daring.
Di era digital seperti sekarang, kita memang semakin terkoneksi, tetapi juga semakin kesepian. Kita punya ribuan kontak, tetapi minim percakapan yang benar-benar menyentuh. Di sinilah silaturahmi tatap muka menjadi sangat relevan, bahkan mungkin semakin penting.
Syawalan, dengan segala bentuknya, sejatinya adalah pengingat bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita butuh hadir secara fisik, saling menatap, saling menyentuh, saling mendoakan.
Tanpa kita sadari, setiap langkah menuju rumah saudara, setiap jabat tangan, setiap pelukan hangat adalah langkah kecil yang sedang memperpanjang umur kita.
Maka, jika ada yang bertanya: apa rahasia hidup sehat dan panjang umur?
Jawabannya bisa jadi sederhana, sering-seringlah bersilaturahmi. Wallahu a’lam bishawab
