Riawan Amin : Infrastruktur Bank Syariah Masih Minim

Riawan Amin, Asmuni, dan Hujair AH Sanaky pada stadium general di UII Demangan Yogyakarta, Senin (7/11/2016). (foto : heri purwata)
riawan-aminr
Riawan Amin saat berbicara pada stadium general di Pascasarjana FIAI UII Yogyakarta, Senin (7/11/2016). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA — Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia, Dr A Riawan Amin menandaskan belum berkembangnya perbankan syariah di Indonesia akibat masih minimnya infrastruktur. Hal ini membuat umat Islam masih kesulitan membuka rekening perbankan syariah di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga market share perbankan syariah masih berkisar lima persen.

“Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur yang sama antara bank syariah dan konvensional. Infrastruktur yang sederhana saja, bagaimana umat Islam bisa membuka tabungan syariah di cabang bank seluruh Indonesia,” kata Riawan Amin ketika menjadi pembicara pada Stadium Generale di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (7/11/2016).
Lebih lanjut Riawan menjelaskan maksud infrastruktur yang sama antara bank syariah dan konvensional adalah umat Islam bisa membuka rekening bank syariah di bank konvensionalnya. Jika hal ini sudah tersedia, tentu perkembangan syariah akan lebih pesat.

Sebetulnya, kata Riawan, dirinya sudah pernah membuat terobosan agar umat Islam bisa menabung di Bank Muamalat dari 3.000 titik berbagai pelosok negeri, tahun 2007. Saat itu dirinya masih menjabat Direktur Utama Bank Muamalat dan cara yang dilakukan bekerjasama dengan Kantor Pos seluruh Indonesia.

“Waktu itu Kantor Pos memiliki infrastruktur dan jaringan yang luas. Sedang Bank Muamalat membutuhkan infrastruktur dan jaringan sehingga terjalin kemitraan antara Bank Muamalat dan Kantor Pos,” kata Riawan Amin.

Namun setelah dirinya lengser dari jabatannya, sistem kemitraan ini tidak tergarap secara serius sehingga perbankan syariah kurang berkembang. Selain infrastruktur, ada tiga alasan mengapa perbankan tidak bisa di atas lima persen. “Pertama, keimanan masyarakat yang tidak jelas. Kedua, bank syariah kurang profesional. Ketiga, regulator tidak jelas mau membidik siapa,” tandas Riawan.

Stadium general yang bertema ‘Dinamika dan Tantangan Perbankan Syariah di Indonesia’ ini diikuti mahasiswa pasca sarjana FIAI UII dan dimoderatori Asmuni MTh MAg. Acara yang mendatangkan pembicara tamu ini digelar Pascasarjana FIAI UII secara rutin sebulan sekali.

Menurut Direktur Pascasarjana FIAI UII, Dr Hujair AH Sanaky MSI stadium general untuk memperkaya pembelajaran teori tentang perbankan syariah bagi mahasiswa. Selain itu, menggugah antusiasme mahasiswa untuk berperan aktif dalam meningkatkan perkembangan perbankan syariah. “Jadi mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori saja, tetapi juga ilmu dari para praktisi,” kata Hujair.

Penulis : Heri Purwata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *