YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid menandaskan kejernihan berpikir dan keberanian tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan akan menghasilkan keputusan yang tepat. Sebab kebijaksanaan yang baik tidak lahir dari reaksi spontan.
Rektor UII mengemukakan hal tersebut pada Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Sabtu (27/12/2025). Periode ini UII mewisuda sebanyak 738 lulusan dari berbagai jenjang dan terdiri satu program ahli madya, 14 dari program sarjana terapan, 638 dari program sarjana, 73 dari program magister, serta 12 dari program doktor.
Fathul Wahid menjelaskan saat ini merupakan zaman yang sangat bising, bukan hanya oleh suara, tetapi oleh banjir informasi, opini, dan tuntutan untuk selalu bereaksi cepat. Setiap hari setiap orang digoda untuk segera merespons, menyimpulkan, dan mengambil posisi, seolah kecepatan merupakan tanda kecerdasan.
Padahal, kesimpulan yang cepat adalah keliru apalagi merasa paling yakin. “Kebijaksanaan tidak lahir dari reaksi spontan, melainkan dari kejernihan berpikir dan keberanian untuk melambat,” kata Fathul Wahid.
Mengutip Daniel Kahneman, Fathul Wahid mengatakan pikiran manusia bekerja melalui dua sistem. Pertama, bekerja cepat, otomatis, dan emosional. Pikiran cepat ini membantu seseorang bereaksi instan, tetapi juga rawan bias dan kesalahan.
Kedua, pikiran bekerja lebih lambat, penuh usaha, dan analitis. Sistem pemikiran ini memang melelahkan, tetapi di sanalah penilaian yang lebih jernih terbentuk.
“Masalahnya, dunia hari ini hampir selalu memaksa kita hidup dalam sistem pertama – cepat membaca judul, cepat menyimpulkan isi, cepat membagikan tanpa sempat memeriksa,” kata Fathul Wahid.
Sedang menjaga akal sehat, kata Fathul Wahid, memberi ruang bagi sistem kedua untuk bekerja. Artinya, berani berhenti sejenak sebelum bereaksi, berani bertanya sebelum percaya, dan berani menimbang sebelum memutuskan.
“Salah satu jebakan terbesar manusia sebagai overconfidence – bias, atau kesalahan sistematis, karena rasa percaya diri berlebihan pada penilaian sendiri. Di sini ada ilusi pemahaman. Banyak kesalahan besar dalam hidup bukan lahir dari kurangnya informasi, tetapi dari keyakinan yang terlalu cepat dan tidak diuji,” katanya.
Dalam kehidupan seseorang, saran Rektor UII, bereaksi cepat sering memberi rasa puas sesaat, tetapi tidak selalu membawa seseorang lebih jauh. “Justru mereka yang mampu menahan diri, menjaga kejernihan pikiran, dan memilih dengan sadar, biasanya melangkah lebih tepat,” katanya. (*)
