Potensi Diri, Personal Branding dan Career Mapping Tentukan Kesuksesan Seseorang

Kiri ke kanan: Dr Ahmad Luthfi, Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika FTI UII, Adityanto Prayogo, dan R Teduh Dirgahayu saat menyampaikan materi Kuliah Umum, Sabtu (20/6/2026). (foto : istimewa)
Kiri ke kanan: Dr Ahmad Luthfi, Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika FTI UII, Adityanto Prayogo, dan R Teduh Dirgahayu saat menyampaikan materi Kuliah Umum, Sabtu (20/6/2026). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Mengenali potensi diri, membuat personal branding, serta kemampuan memetakan menuju karir tertinggi dapat menentukan kesuksesan seseorang. Berdasarkan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2025, dunia kerja semakin membutuhkan kombinasi antara kompetensi digital dan keterampilan manusia seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta kemampuan pemecahan masalah.

Demikian diungkapkan Dr Ir Raden Teduh Dirgahayu, ST, MSc, Ketua Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) pada Kuliah Umum ‘Personal Branding & Career Mapping Berbasis Kekuatan Potensi Diri’ Sabtu (20/6/2026). Kuliah Umum ini menghadirkan nara sumber Adityanto Prayogo, Profesional Human Capital.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut Teduh Dirgahayu menjelaskan transformasi digital, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan otomatisasi telah mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Laporan The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa 22% pekerjaan global akan mengalami transformasi hingga tahun 2030. Sedang 39% keterampilan yang dimiliki tenaga kerja saat ini diperkirakan akan berubah.

Perubahan tersebut, kata Teduh, menyebabkan persaingan karier tidak lagi hanya ditentukan oleh gelar akademik atau indeks prestasi. Tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengenali keunggulan dirinya, mengembangkan kompetensi yang relevan, serta mengkomunikasikan nilai yang dimiliki kepada dunia profesional.

Selanjutnya, dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi, personal branding menjadi instrumen penting untuk membangun reputasi, meningkatkan visibilitas profesional, dan memperluas peluang karier. Sedang career mapping diperlukan agar individu mampu merencanakan arah pengembangan kompetensi dan karier secara lebih terstruktur sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Menurut Teduh, tantangan tersebut menjadi semakin relevan, sehingga pendidikan pascasarjana tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, membangun jejaring profesional, serta menciptakan nilai tambah yang membedakannya dari tenaga kerja lainnya. “Karena itu, diperlukan pemahaman mengenai cara mengidentifikasi kekuatan potensi diri, membangun personal branding yang autentik, dan menyusun peta karier yang selaras dengan perkembangan dunia kerja,” tandas Teduh.

Kuliah Umum ‘Personal Branding & Career Mapping Berbasis Kekuatan Potensi Diri,’ kata Teduh, untuk membekali mahasiswa dan lulusan S2 Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII). “Harapannya mereka memiliki wawasan, strategi, dan langkah praktis dalam mengoptimalkan potensi diri, meningkatkan daya saing profesional, serta mempersiapkan karier yang berkelanjutan di era transformasi digital,” harap Teduh.

Sementara Adityanto Prayogo mengatakan ada tiga kunci mengembangkan karier berkelanjutan. Pertama, membangun reputasi personal melalui integritas, semangat untuk terus maju, dan kompetensi yang teruji. Kedua, membangun tim melalui kecepatan belajar, kepercayaan, dan kemampuan bekerja sama untuk menghasilkan dampak yang lebih besar. Ketiga, membangun kebijaksanaan melalui kerendahan hati, growth mindset, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, teknologi, dan kebutuhan bisnis.

Menurut Adityanto, reputasi tidak dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui karya dan nilai yang diberikan secara konsisten. Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri tidak hanya untuk menjadi individu yang dikenal, tetapi juga individu yang bernilai dan memberi manfaat. ““Jangan fokus menjadi terkenal. Fokuslah menjadi bernilai,” pesan Adityanto. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *