Refleksi: Meniti Senja, Nyaur Utang

Widodo Brontowiyono
Widodo Brontowiyono

Catatan Kecil Widodo Brontowiyono* pada usia 68 Tahun

Hari ini, 11 Juni 2026, Allah SWT memperkenankan saya menapaki usia 68 tahun. Sejujurnya, saya tidak lagi melihat ulang tahun sebagai perayaan bertambahnya umur. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa perjalanan yang tersisa mungkin lebih pendek daripada perjalanan yang telah dilalui.

Dulu saya mengira hidup adalah tentang mengejar cita-cita, menyelesaikan pendidikan, menjalankan profesi, menuntaskan berbagai amanah, dan berusaha memberi manfaat sebanyak mungkin. Semua itu memang penting. Namun semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa hidup bukanlah sekadar tentang apa yang berhasil kita capai, melainkan tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kembali.

Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan urip iku mung mampir ngombe. Hidup hanyalah persinggahan sejenak. Kita datang tanpa membawa apa-apa, dan pada akhirnya akan kembali tanpa membawa apa-apa pula. Yang mungkin ikut menemani hanyalah amal yang diterima, ilmu yang bermanfaat, anak-anak yang saleh dan salehah, serta doa-doa yang terus mengalir.

Karena itu, memasuki usia 68 tahun ini saya lebih sering menghitung kekurangan daripada pencapaian. Apa yang belum sempat saya perbaiki. Apa yang masih harus saya pelajari. Dan bekal apa yang masih harus saya siapkan. Dalam bahasa sederhana yang sering saya gunakan, mungkin inilah yang saya sebut sebagai nyaur utang. Bukan utang harta, bukan pula utang kepada manusia. Melainkan utang kepada Allah SWT atas begitu banyak nikmat yang belum cukup saya syukuri. Utang kepada diri sendiri yang terlalu lama disibukkan oleh urusan dunia, sementara bekal akhirat masih terasa sangat sedikit.

Karena itulah, beberapa tahun terakhir saya berusaha mengejar ketertinggalan dalam ilmu agama. Saya mencoba kembali menjadi murid. Belajar membaca Al-Qur’an, memperbaiki tajwid, memperbaiki makhraj, dan berusaha memahami agama dengan lebih sungguh-sungguh.

Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan KATANA. Di sana saya hanyalah seorang santri lansia yang masih sangat awam. Bacaan Al-Qur’an saya masih sering terbata-bata, masih plegak-pleguk, masih jauh dari baik. Kadang harus mengulang pelajaran berkali-kali. Kadang tertinggal dari teman-teman yang lain. Bahkan tidak selalu mudah untuk naik kelas.

Namun justru di situlah saya belajar tentang kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan. Saya bersyukur dipertemukan dengan para ustadz yang membimbing dengan penuh kesabaran. Mereka tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar selama Allah masih memberi kesempatan hidup. Terima kasih yang tulus kepada para ustadz yang telah dengan sabar membimbing seorang santri lansia yang masih penuh kekurangan ini. Semoga Allah membalas segala kebaikan panjenengan semua dengan pahala yang berlipat ganda.

Alhamdulillah pula, sejak Januari 2023 Allah menghadirkan NgaSSo, Ngaji Sabtu Sore, di Alamo Homestay. Dari kegiatan sederhana bersama para tetangga dan sahabat itu, saya belajar bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu berada di ruang-ruang besar. Kadang ia hadir dalam lingkaran kecil orang-orang yang duduk bersama membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sedikit demi sedikit saya juga mulai mengurangi berbagai aktivitas yang terlalu banyak berhubungan dengan proyek dan urusan duniawi lainnya. Bukan karena merasa sudah selesai, melainkan karena semakin sadar bahwa ada perjalanan lain yang perlu lebih dipersiapkan.

Pada usia ini, saya semakin percaya bahwa yang paling penting bukanlah menjadi orang yang dikenal banyak orang, melainkan menjadi orang yang dikenal baik oleh Allah SWT.

Pada kesempatan yang penuh syukur ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada istri tercinta, Tuti Anuriyah, yang akrab kami panggil Mbah Uti.

Jika ada kebaikan dalam perjalanan hidup saya, maka beliau adalah salah satu sebab terbesar yang Allah hadirkan. Di balik berbagai amanah yang saya jalani selama ini, ada doa-doa beliau yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain. Ada kesabaran, dukungan, pengorbanan, dan ketulusan yang tidak mungkin dapat saya balas dengan sempurna.

Terima kasih telah menjadi sahabat perjalanan selama puluhan tahun. Menemani dalam masa sulit maupun masa lapang. Menguatkan ketika lemah. Mengingatkan ketika lalai. Dan tetap membersamai hingga hari ini.

Semoga Allah SWT selalu menjaga, memuliakan, dan mempertemukan kita kembali kelak di surga-Nya.Terima kasih pula kepada anak-anak tercinta, Deby, Syafiq, Ahan, dan Jojo. Juga kepada cucu-cucu tersayang, Aira dan El. Kalian adalah bagian dari nikmat yang setiap hari saya syukuri.

Melihat kalian tumbuh, belajar, berjuang, dan menemukan jalan kehidupan masing-masing menghadirkan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jika suatu saat kalian membaca catatan kecil ini, ketahuilah bahwa tidak ada warisan yang lebih ingin saya tinggalkan selain doa, kasih sayang, dan harapan agar kalian selalu dekat dengan Allah SWT.

Karena pada akhirnya, rumah yang paling aman bukanlah rumah yang dibangun dengan bata dan semen, melainkan rumah yang dibangun dengan iman, cinta, dan doa.

Hari ini saya tidak memiliki banyak permintaan kepada Allah. Saya hanya berharap diberi kesempatan untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, terus menambah bekal, dan terus memohon ampunan. Sebab semakin bertambah usia, saya semakin merasakan bahwa perjalanan pulang itu bukan lagi sesuatu yang jauh.Sebagaimana falsafah Jawa tentang sangkan paraning dumadi, manusia perlu selalu ingat dari mana ia berasal dan ke mana pada akhirnya akan kembali.

Maka jika masih ada sisa waktu yang Allah titipkan, semoga dapat saya gunakan untuk terus nyaur utang. Nyaur utang syukur. Nyaur utang ilmu. Nyaur utang ibadah. Nyaur utang kasih sayang kepada keluarga. Dan nyaur utang kepada Allah SWT yang telah begitu banyak memberi, sementara saya begitu sedikit membalas.

Ya Allah, jangan biarkan kami pulang sebelum sempat bersyukur. Jangan biarkan kami pulang sebelum sempat meminta maaf. Jangan biarkan kami pulang sebelum sempat lebih dekat kepada-Mu.Dan ketika saat pulang itu tiba, panggillah kami dalam keadaan Engkau ridai.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Yogyakarta, 11 Juni 2026
*) Guru Besar Bidang Teknik Lingkungan UII, Yogyakarta