Jurusan Farmasi UII dan PCI ‘Aisyiyah Taiwan Gelar Webinar Vaksinasi dan Booster

Webinar "Vaksinasi COVID-19 dan booster: Masihkah diperlukan saat ini?", Ahad (5/3/2022). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) dan Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) ‘Aisyiyah Taiwan menggelar webinar Vaksinasi Covid-19 dan Booster, Ahad (6/3/2022). Webinar diikuti masyarakat yang berada di Taiwan, Hongkong, dan Indonesia. Mereka yang di Taiwan dan Hongkong sebagian besar merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Webinar yang mengangkat tema “Vaksinasi Covid-19 dan booster: Masihkah diperlukan saat ini?” menghadirkan pembicara Dr Apt Arba Pramundita Ramadani, Dosen Farmasi UII dan dr Nur Huda Asmar perwakilan dari PCIA Taiwan.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Jurusan Farmasi, apt Ari Wibowo, MSc mengatakan webinar ini merupakan salah satu bagian dari program rutin pengabdian masyarakat Jurusan Farmasi. “Khusus untuk periode ini, kami bekerjasama dengan PCI ‘Aisyiyah Taiwan untuk memperluas manfaat acara ini. Sasaran kita untuk program pengabdian masyarakat kali ini adalah masyarakat internasional, mengingat Covid-19 hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan bersama di seluruh dunia,” kata Ari Wibowo.

Lebih lanjut Ari Wibowo mengatakan munculnya berbagai varian baru virus Covid-19 di berbagai negara dalam waktu setahun terakhir ini, menyebabkan pengetahuan tentang Covid-19 berkembang dengan sangat dinamis. Kondisi tersebut juga memicu berbagai perubahan kebijakan khususnya vaksinasi dan booster vaksin Covid-19.

Jurusan Farmasi UII berkolaborasi dengan PCI ‘Aisyiyah Taiwan mengadakan webinar kepada masyarakat yang berada di Indonesia maupun Taiwan. Webinar ini bertujuan untuk memperluas wawasan tentang kondisi Covid-19 terkini termasuk vaksin/booster vaksin Covid-19, serta meningkatkan kembali kesadaran masyarakat terhadap langkah pencegahan penyebarannya.

Sedang Arba Pramundita Ramadani memaparkan tren kondisi Covid-19, berbagai hal penting tentang vaksin, dan mengapa diperlukan booster vaksin Covid-19. Arba mengatakan pemberian vaksinasi lengkap dan booster, mampu melindungi 91% dari kematian, atau resiko buruk akibat Covid-19.

Sementara Nur Huda Asmar menjelaskan resiko tanpa vaksin dan booster. Selain itu, Huda juga memaparkan hal yang lebih spesifik mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah Taiwan untuk program vaksinasi dan booster. Materi tersebut diberikan untuk merespon keberadaan WNI yang menduduki persentase tertinggi dari total populasi migran di Taiwan.

Acara yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat yang berada di Taiwan, Hongkong, dan Indonesia. Banyak pertanyaan berasal dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI), salah satunya menanyakan mengapa meskipun sudah vaksin dan booster masih tetap bisa terkena Covid-19.

Selain itu juga ada pertanyaan tentang jeda waktu pemberian vaksin, kehalalan produk vaksin setempat yang mereka terima, dan intensitas vaksin booster yang tepat. Para peserta yang hadir menyampaikan rasa puas dan senang dapat mengikuti acara tersebut.

Salah seorang peserta merasa sangat terbantu dengan webinar ini karena sempat bingung dengan ragam aturan tentang vaksin dan kekhawatiran adanya perbedaan vaksin yang mereka terima dengan booster yang ada di Indonesia. Masalah tersebut juga banyak diresahkan oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan pulang ke Indonesia terutama dalam waktu dekat. 

Ketua PCI ‘Aisyiyah Taiwan, Kellyana Irawati mengungkapkan pihaknya memiliki perhatian yang besar terkait dengan pengendalian pandemi, sesuai dengan kebijakan dan pandangan PP Muhammadiyah. PCI ‘Aisyiyah Taiwan menyadari perlu usaha yang konsisten agar pandemi ini dapat segera berakhir, dan langkah ini merupakan ikhtiar umat Islam seperti yang tertulis dalam Alquran serta Sunnah Rasul. “Salah satu upaya yang kami lakukan adalah bekerjasama dengan pihak di eskternal PCIA, salah satunya dengan Jurusan Farmasi UII,” kata Kellyana.

Ketua kegiatan webinar, Okti Ratna Mafruhah, menyampaikan pihaknya berencana mem-follow-up kegiatan tersebut dengan meningkatkan intensitas penyebaran informasi rekaman acara ke grup-grup PMI yang ada di Taiwan, maupun negara lain seperti Hongkong. Ia juga menyebutkan bahwa Jurusan Farmasi UlI berencana menyiapkan versi bilingual konten pengabdian masyarakat agar dapat diakses oleh pekerja migran asing yang berada di Indonesia maupun negara lain. 

Kegiatan webinar tersebut merupakan hasil kolaborasi pertama kali antara Jurusan Farmasi UII dan PCI ‘Aisyiyah Taiwan. Kedua belah pihak berharap ada keberlanjutan untuk pengabdian masyarakat yang diadakan di masa mendatang.

Masing-masing pihak menyambut baik kegiatan edukasi ini karena keterbatasan akses informasi bagi migran di bidang kesehatan, terutama para pekerja, mampu mempengaruhi pola pikir dan perilaku yang dapat berefek negatif baik jangka pendek maupun panjang. “Kegiatan yang disiarkan live dan direkam melalui kanal Youtube ini juga diharapkan dapat kembali disimak oleh lebih banyak khalayak di masa mendatang,” kata Okti Ratna Mafruhah.
 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *