YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Industri penerbangan merupakan salah satu sektor yang sangat bergantung pada sistem teknologi informasi, mulai dari pengelolaan jadwal penerbangan, sistem reservasi tiket, hingga pengelolaan data penumpang. Ketergantungan ini menjadikan penerbangan sipil sangat rentan terhadap berbagai ancaman siber apabila tidak dilengkapi dengan strategi keamanan informasi yang matang dan berkelanjutan.
Dr Ahmad Luthfi, Manajer Akademik Keilmuan Program Studi Magister Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) pada Kuliah Umum Perspektif Pakar secara virtual, Sabtu (20/12/2025). Kuliah Umum menghadirkan pembicara Arif Faizal MKom, Alumni Magister Informatika FTI UII yang bekerja di Susi Air Training Center, juga Dosen Politeknik Manahijulhuda Tasikmalaya, Jawa Barat.
Lebih lanjut Ahmad Luthfi menegaskan keamanan informasi pada industri penerbangan bukan lagi sebagai isu pendukung. Namun keamanan informasi sudah menjadi kebutuhan strategis utama yang bertujuan untuk menjaga keselamatan, kelangsungan operasional, dan kepercayaan publik dalam industri penerbangan sipil.
Karena itu, kata Ahmad Luthfi, Kuliah Umum Perspektif Pakar dengan nara sumber Arif Faizal sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Kuliah Umum mengangkat tema ‘Strategi Keamanan Informasi Tegaskan Pentingnya Cybersecurity di Penerbangan Sipil.’ Kuliah Umum virtual ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, praktisi teknologi informasi, hingga mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada isu cybersecurity.
Sementara Arif Faizal menjelaskan serangan siber di industri penerbangan bukan lagi sekadar ancaman teoritis. Namun serangan tersebut telah terjadi secara nyata di berbagai negara dan berdampak signifikan terhadap operasional maskapai maupun Bandara.
Salah satu kasus nyata, kata Arif, serangan siber di industri penerbangan dalam lima tahun terakhir terjadi pada 30 Juni 2025. Maskapai Qantas di Australia mengalami pelanggaran data besar-besaran yang berdampak pada lebih dari 5,7 juta pelanggan.
Insiden ini disebabkan adanya peretasan pada sistem pihak ketiga yang digunakan oleh pusat panggilan (call center) Qantas. Serangan ini menyebabkan data pelanggan seperti nama, alamat email, nomor frequent flyer, tanggal lahir, dan nomor telepon terekspos kepada pelaku ancaman.
“Serangan ini menyoroti kerentanan dalam rantai pasokan teknologi dan menunjukkan bahwa meskipun operasi penerbangan secara teknis tetap berjalan, dampak keamanan informasi dapat meluas hingga eksposur data jutaan orang serta potensi gangguan layanan dan kepercayaan publik yang signifikan di sektor penerbangan sipil,” kata Arif.
Arif Faizal juga memaparkan sejumlah kasus insiden siber yang pernah menimpa industri penerbangan global. Di antaranya, kebocoran data penumpang, gangguan sistem operasional, hingga serangan terhadap sistem milik vendor pihak ketiga.
“Rantai pasokan teknologi dalam penerbangan harus menjadi perhatian serius, mengingat satu celah kecil pada sistem vendor dapat berdampak besar terhadap keseluruhan ekosistem penerbangan. Karena itu, audit keamanan sistem secara berkala dinilai sangat penting untuk meminimalkan risiko tersebut,” kata Arif yang juga ahli di bidang forensik digital dan manajemen teknologi informasi.
Menurut Arif, perlu peningkatan kemananan ketahanan operasional (operational resilience) dalam menghadapi serangan siber. Strategi keamanan informasi tidak hanya bertujuan mencegah serangan, tetapi juga memastikan bahwa operasional penerbangan tetap dapat berjalan dengan baik meskipun terjadi insiden keamanan. Hal ini sangat krusial demi menjaga keselamatan penerbangan dan kepercayaan publik. (*)
