Dekan FTSP UII : Rumah Adaptif Iklim Kolaborasi Tiga Ilmu untuk Solusi Membumi dan Visioner

Ilya Fadjar Maharika, Dekan FTSP UII saat menyampaikan sambutan di Coffee Morning Lecture #9. (foto : heri purwata)
Ilya Fadjar Maharika, Dekan FTSP UII saat menyampaikan sambutan di Coffee Morning Lecture #9. (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Rumah adaptif iklim yang berada di Desa Wunung, Gunungkidul, tercipta dari kolaborasi tiga ilmu, arsitektur, teknik sipil, dan teknik lingkungan. Kolaborasi ini dapat menjadi solusi pembangunan perumahan yang membumi dan visioner bagi masyarakat karena rumah adaptif iklim mengedepankan kenyamanan bagi penghuninya.

Prof Dr Ing Ir Ilya Fadjar Maharika, MA, IAI, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia (FTSP UII) mengemukakan hal tersebut pada pembukaan Coffee Morning Lecture #9. Kali ini FTSP UII bekerjasama dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) dan PT Prudential Life Assurance Indonesia mengangkat tema ‘Kajian Rumah Adaptif Iklim.’

Bacaan Lainnya

Coffee Morning Lecture #9 menghadirkan pembicara Prof Ir Suparwoko, MURP, PhD, Dosen Prodi Arsitektur FTSP UII yang memimpin pembangunan Rumah Adaptif Iklim di Desa Wunung, Gunungkidul. Panelis Ar Erlangga Winoto IAI, Asean Arch, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); dan Ar Daud Tjondro Rahardja MBA, IAI, GP, Direktur Green Building Council Indonesia (GBCI).

Lebih lanjut Ilya Fadjar Maharika mengatakan kerjasama FTSP UII dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) dan PT Prudential Life Assurance Indonesia bukan sekadar program akademik. Namun merupakan wujud keberpihakan UII terhadap ketangguhan masyarakat.

“Rumah adaptif iklim menunjukkan bahwa ilmu arsitektur, teknik sipil, dan teknik lingkungan dapat menyatu menjadi solusi yang membumi dan visioner. Coffee Morning Lecture ini merupakan wadah untuk berinteraksi dan mengembangkan diri,” kata Ilya Fadjar Maharika.

Suparwoko saat memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim. (foto : heri purwata)
Suparwoko saat memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim. (foto : heri purwata)

Sementara Suparwoko memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim bagi warga Desa Wunung, Gunungkidul. Arsitektur ini dikembangkan berdasarkan kondisi karst Gunungkidul, pola hidup warga, dan teknologi konstruksi yang terjangkau.

“Rumah adaptif iklim bukan sekadar penyesuaian kecil pada desain. Rumah adaptif iklim merupakan pendekatan holistik yang menimbang orientasi matahari, ventilasi alami, konservasi air, material lokal, hingga kapasitas ekonomi warga,” kata Suparwoko.

Suparwoko menambahkan Desa Wunung memberi pelajaran penting bagi para akademisi. “Rumah adaptif iklim di Desa Wunung merupakan inovasi terbaik yang diterapkan oleh masyarakat sendiri,” tandas Suparwoko. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *