YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Metcovazin dan stimulasi listrik dapat mempercepat penyembuhan luka penderita Diabetes. Temuan ini masih dalam tahap penelitian praklinis sehingga masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk dapat diterapkan pada manusia melalui penelitian translasional dan klinis.
Demikian hasil penelitian desertasi Lutfi Nurdian Asnindari, Dosen Prodi Keperawaatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Lutfi Nurdian Asnindari mengangkat judul desertasi ‘Kombinasi Stimulasi Listrik dan Metcovazin® untuk Memperpendek Fase Proliferasi dan Remodeling Penyembuhan Luka pada Tikus Model Diabetes.’
Desertasi tersebut berhasil dipertahankan pada Ujian Terbuka dilaksanakan di Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (15/9/2026). Dewan Penguji menyatakan Lutfi Nurdian Asnindari berhasil lulus dan berhak menyandang gelar Doktor.
Lutfi Nurdian Asnindari menyarankan untuk mendapatkan hasil maksimal proses penyembuhan luka diabetes perlu dilakukan perawat yang sudah terlatih merawat luka. Selain itu, perlu melakukan uji klinis tahap selanjutnya untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan kombinasi Metcovazin® dengan stimulasi listrik selama 15 menit sebagai terapi adjuvan berbasis bukti pada tata laksana luka pada pasien diabetes.
Latar belakang penelitian ini, jelas Lutfi Nurdian Asnindari, karena penyakit diabetes mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan berkontribusi terhadap tingginya kejadian ulkus kaki diabetik. Di Indonesia, prevalensi DM berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia ≥15 tahun mencapai 1,7%.
Kemudian, secara global, lebih dari 90% kasus merupakan DM tipe 2 dengan prevalensi 536,6 juta orang pada tahun 2021 dan diproyeksikan meningkat menjadi 783,2 juta orang pada tahun 2045. Hiperglikemia persisten, gangguan barier infeksi, stres oksidatif, neuropati, komplikasi mikrovaskular, dan inflamasi kronis menyebabkan proses penyembuhan luka berlangsung lambat sehingga meningkatkan risiko amputasi serta beban ekonomi jangka panjang.
Saat ini, kata Lutfi, berbagai terapi telah dikembangkan, tetapi efektivitasnya belum optimal. Sehingga masih diperlukan terapi adjuvan yang mampu mempercepat penyembuhan luka. Karena itu, Lutfi berinovasi mengembangkan terapi adjuvan menggunakan kombinasi Metcovazin® dan stimulasi listrik dengan variasi durasi. “Kombinasi Metcovazin® dan stimulasi listrik selama 15 menit merupakan intervensi yang paling efektif dalam mempercepat penyembuhan luka pada tikus model diabetes,” kata Lutfi Nurdian Asnindari. (*)
