Rektor UII : Wisudawan Dituntut Luwes Beradaptasi dan Terus Belajar

Rektor UII memindahkan kucir toga sebagai prosesi wisuda. (foto : Humas UII)
Rektor UII memindahkan kucir toga sebagai prosesi wisuda. (foto : Humas UII)

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Pekerjaan yang hari ini ada, mungkin lima tahun lagi akan lenyap. Karena itu, keberhasilan sejati tidak lagi diukur dari seberapa ahli wisudawan-wisudawati di satu bidang. Tetapi dari seberapa luwes wisudawan-wisudawati beradaptasi, seberapa berani wisudawan-wisudawati menjelajah, dan seberapa terbuka wisudawan-wisudawati untuk terus belajar hal-hal baru.

Itulah pesan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pada Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode I Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (25/10/2025). Periode ini, UII mewisuda sebanyak 1.419 lulusan dari berbagai jenjang dan wisuda dilaksanakan Sabtu dan Ahad (25-26/10/2025). Mereka terdiri sembilan dari program ahli madya, 58 dari program sarjana terapan, 1.221 dari program sarjana, 119 dari program magister, dan 12 dari program doktor.

Bacaan Lainnya

Mengutip buku David Epstein (2021), berjudul ‘Range : Why Generalists Triumph in a Specialized World,’ Fathul Wahid menandaskan dunia modern tidak hanya butuh para spesialis. Tetapi dunia modern juga butuh para generalis yaitu orang-orang yang berani menyeberangi batas pengetahuan, yang mampu melihat dunia dari banyak jendela, dan menghubungkan titik-titik yang tampak tak berhubungan menjadi solusi yang bermakna.

“Range merupakan salah satu buku yang direkomendasikan oleh McKinsey pada tahun ini, 2025,” kata Fathul Wahid.

Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan Epstein menulis, “We learn who we are in practice, not in theory.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan mendalam: seseorang tidak akan menemukan jati diri hanya dari teori atau rencana hidup yang rapi, melainkan dari keberanian mencoba, bereksperimen, dan kadang-kadang gagal. Sebab dalam percobaan itulah seseorang belajar tentang diri kita sendiri.

“Selama ini, banyak dari kita dibesarkan dengan pandangan bahwa kesuksesan ditentukan oleh spesialisasi yang tajam — semakin cepat memilih jurusan, semakin cepat menentukan karier, maka semakin baik. Namun, Epstein justru menunjukkan hal sebaliknya. Bahwa mereka yang memberi ruang untuk menjelajah, yang berani ‘menyimpang sedikit’ dari jalur, sering kali justru menemukan jalan yang lebih bermakna,” kata Fathul Wahid.

Epstein mencontohkan, tambah Fathul Wahid, Roger Federer, pemegang 20 gelar Grand Slam tunggal dan menjadi petenis nomor satu dunia dalam waktu yang sangat lama, 310 pekan. Ia tidak tumbuh sebagai atlet tenis sejak bayi. Sebelumnya, Federer mencoba berbagai olahraga seperti sepak bola, bola basket, bahkan skateboard dan akhirnya memilih tenis di usia remaja.

Federer tidak terburu-buru ‘menetap,’ sebagai pemain tenis. Namun justru karena pengalaman yang beragam itulah Federer tumbuh menjadi pemain yang lentur, kreatif, dan tahan banting.

Saat ini, kata Fathul Wahid, hidup di dunia yang tidak lagi menghargai kepastian tunggal. Masalah-masalah hari ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu disiplin ilmu. Seperti, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, etika kecerdasan buatan — semua permasalahan tersebut menuntut kolaborasi lintasbidang, lintasbahasa, lintas-cara berpikir.

“Pendidikan sejati bukanlah soal mencetak ahli sempit, tetapi menumbuhkan manusia yang mampu berpikir luas, berjejaring lintas disiplin, dan menghargai keragaman pengetahuan,” tandas Fathul.

Karena itu, kata Fathul, wisudawan-wisudawati yang belum menemukan ‘tujuan hidup’ hari ini jangan takut dan khawatir bila arah karier nanti berubah. Wisudawan-wisudawati perlu berkenalan dulu dengan berbagai pengalaman sebelum tahu mana yang benar-benar cocok untuknya. Ambillah waktu untuk menjelajah, karena menjelajah bukan membuang waktu, tetapi itu merupakan cara terbaik untuk menemukan makna, jalur yang paling pas menurut masing-masing wisudawan-wisudawati.

“Hal yang tak kalah penting, jangan takut untuk gagal, bahkan untuk berhenti. Kadang berhenti justru langkah paling berani, karena ia memberi ruang untuk hal yang lebih sesuai. Dunia ini terlalu luas untuk dijalani dengan pikiran yang sempit,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *