KULONPROGO, JOGPAPER.NET — Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, mengurangi kesenjangan dengan daerah perkotaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sedang Panen Raya Cabai Pesisir di Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan implementasi Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI).
Eko Yunianto, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mengemukakan hal tersebut pada Panen Raya Cabai Pesisir di Kalurahan Banaran, Kulonprogo, Kamis (13/11/2025). Panen Raya dihadiri Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi; Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah DIY, Tri Saktiyana; Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kulonprogo, Sri Budi Utami; serta Direktur Utama PT Bank BPD DIY, Santoso Rochmad.
Lebih lanjut Eko Yunanto menjelaskan Kalurahan Banaran, Kulonprogo cukup potensial untuk menjadi tempat implementasi Program Desa EKI. Fokusnya pada pengembangan potensi alam yang dimiliki Kalurahan Banaran seperti cabai pesisir, buah-buahan, dan potensi lainnya.
“Panen Raya Cabai Pesisir ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di bawah koordinasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Daerah Istimewa Yogyakarta yang melibatkan berbagai pihak seperti OJK, Bank Indonesia, instansi perbankan di daerah, kelompok tani, serta pihak terkait lainnya,” kata Eko.
Program EKI, kata Eko, akan mensinergikan peran para pemangku kepentingan di daerah. Di antaranya, Pemerintah Daerah, OJK, Bank Indonesia dan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) dengan kebutuhan masyarakat perdesaan terhadap berbagai layanan dan produk lembaga jasa keuangan seperti program Rekening Pelajar (KEJAR), program Laku Pandai, KUR, dan QRIS.
Selain itu, tambah Eko, Program EKI di perdesaan juga dapat mengoptimalkan potensi yang ada di pedesaan yaitu potensi alam, budaya, sosial. Juga kebutuhan finansial dengan ketersediaan akses keuangan dari berbagai sektor jasa keuangan seperti perbankan, asuransi dan pasar modal.
Program EKI, kata Eko, bukan merupakan one time event. Tetapi terdapat tiga tahap yang dilakukan secara berkesinambungan dimulai dari pra inkubasi, inkubasi dan pasca inkubasi. Tahap pra inkubasi, jelas Eko, akan dilakukan proses identifikasi dan pemetaan potensi desa (berupa potensi fisik, alam, manusia, sosial, dan finansial). Kemudian tahap inkubasi, akan dilakukan berbagai kegiatan pendampingan dan edukasi keuangan kepada masyarakat. “Tahap pasca inkubasi masyarakat desa sudah dapat menggunakan berbagai produk keuangan secara optimal,” kata Eko.
Sedang Muhammad Agung Sunusi mengatakan berbagai upaya dapat dilakukan untuk pengamanan ketersediaan cabai. Di antaranya, optimalisasi penggunaan greenhouse sederhana dan smart greenhouse, penguatan kerjasama antar daerah (terutama dari wilayah sentra/surplus ke wilayah defisit).
Selain itu, kata Agung, gerakan tanam di kabupaten sentra dan nonsentra (baik dari swadaya petani, dari dana APBD, maupun CSR dari lembaga lainnya). “Serta sosialisasi EWS SIPANTARA untuk memitigasi dampak perubahan iklim, serangan OPT dan jadwal tanam,” kata Agung.
Tri Saktiyana, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah DIY menambahkan ketahanan pangan bukan sekadar ketersediaan bahan pangan. Tetapi kemampuan masyarakat untuk mengelola, memproduksi, dan mengaksesnya dengan adil serta berkelanjutan.
“Desa EKI di Banaran ini menjadi contoh nyata transformasi ekonomi desa: dari pola tradisional menuju ekonomi inklusif dan digital, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari akses terbatas menuju inklusi dan keadilan ekonomi,” kata Tri.
Sementara Sri Budi Utami, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kulonprogo menjelaskan Kalurahan Banaran dipilih sebagai lokasi Desa EKI bukan tanpa alasan. Tetapi Desa Banaran memiliki potensi pertanian hortikultura yang luar biasa, khususnya komoditas cabai, yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat dan daerah.
Sri Budi Utami mengapresiasi adanya inovasi digitalisasi pasar lelang cabai di Banaran. Sistem transaksi telah dilakukan melalui QR Code (QRIS). Inovasi ini merupakan bentuk nyata penerapan transformasi digital pertanian, yang mempermudah transaksi, meningkatkan transparansi harga, dan memperkuat inklusi keuangan bagi para petani. “Langkah ini sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang terus kita dorong bersama Bank Indonesia dan OJK,” kata Sri.
Sri juga mengemukakan Desa EKI Kalurahan Banaran Kulonprogo, berhasil mencatatkan prestasi dalam Panen Raya Cabai Pesisir. Hasil Panen Raya cabai merah keriting sebanyak 13.724 ton dengan total omzet sebesar Rp 411,7 juta.
“Pada Panen Raya Cabai Pesisir secara simbolis dilakukan penyerahan KUR, agen laku pandai dan Cash Management System (CMS) PT Bank BPD DIY kepada kelompok tani Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulonprogo,” kata Sri. (*)
