YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Eksplorasi tentang Artificial Intelligence (AI) tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis. Namun harus diikuti dengan eksplorasi mengenai etika yang bisa meningkatkan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid mengemukakan hal tersebut saat menyampaikan Opening Speech pada Konferensi Internasional Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII ‘The Ulil Albab International Conference on Islam, Environment, and Technologies (UAICIET 2025).’ UAICIET 2025 dilaksanakan di Auditorium Gedung KH Wahid Hasyim FIAI, Kampus Terpadu UII, Rabu (22/10/2025).
“Eksplorasi tentang Artificial Intelligence (AI) tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis. Kita harus bertanya tentang etika: Dapatkah AI mengembalikan keseimbangan (mīzān) pada lingkungan kita? Dapatkah AI mengurangi kesenjangan daripada memperlebarinya? Dapatkah AI membantu kita membangun dunia yang tidak hanya lebih pintar, tetapi juga lebih adil dan lebih penuh kasih sayang?,” harap Fathul Wahid.
UAICIET 2025 menghadirkan pembicara Prof Ibrahim Özdemir, Vice President for Academic Affairs, American Islamic College, Chicago, United States of America. Dr Joseph Lumbard, Associate Professor of Qur’anic Studies, HBKU, Qatar. Dr Mohd. Nor Adli bin Osman, School of Humanities, Universiti Sains Malaysia. Dr Drs Asmuni, MA, Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia (UII).
Lebih lanjut Fathul Wahid mengatakan Konferensi Internasional ini mengangkat tema ‘Islam, Lingkungan, dan Kecerdasan Buatan. Tema ini mengajak cendekiawan untuk terlibat dalam percakapan yang sangat kaya dan mendesak. “Tema ini menghubungkan iman, planet, dan teknologi. Tiga dunia yang terkadang dianggap terpisah, namun sebenarnya saling terkait,” kata Fathul.
Sementara Dekan FIAI UII, Asmuni mengemukakan latar belakang UAICIET 2025. Saat ini, dunia menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan multidimensional. Di antaranya, isu perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta dampak sosial dan etis dari perkembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan atau yang sering dikenal dengan akal imitasi (AI).
Krisis lingkungan, kata Asmuni, ditandai dengan meningkatnya polusi, deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati. Selain itu, bencana ekologis lainnya, semakin memperparah ketimpangan sosial dan mengancam keberlangsungan hidup umat manusia.
Di saat yang sama, tambah Asmuni, kemajuan teknologi digital dan AI seringkali berkembang tanpa kendali etika yang memadai. Sehingga menimbulkan persoalan baru terkait privasi, keadilan, dan eksklusi sosial.
Sehingga muncul kebutuhan mendesak untuk mencari pendekatan yang holistik, etis, dan berbasis nilai untuk menghadapi krisis global tersebut. Islam, sebagai agama yang komprehensif, menawarkan prinsip-prinsip fundamental yang dapat menjadi landasan etika dalam menjawab tantangan zaman.
“Konsep-konsep seperti khalifah (peran manusia sebagai penjaga bumi), tawazun (keseimbangan), adl (keadilan), dan maslahah (kemanfaatan publik) memberikan arah moral dan spiritual dalam menjaga lingkungan serta dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab,” kata Asmuni.
Menurut Asmuni, keterkaitan antara Islam, lingkungan, dan teknologi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan membentuk simpul penting dalam wacana keadilan ekologi dan transformasi sosial. Dengan memadukan nilai-nilai keislaman dan pemikiran ilmiah modern, umat Islam memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan adil.
Konferensi Internasional Ulil Albab (UAICIET 2025) hadir sebagai ruang intelektual yang transdisipliner untuk mengeksplorasi dan mengkaji hubungan antara Islam, lingkungan, dan teknologi. “Melalui diskusi akademik, kolaborasi riset, dan pertukaran gagasan global, konferensi ini bertujuan merumuskan solusi etis dan aplikatif yang dapat mewujudkan keadilan ekologis dan sosial berbasis nilai-nilai Islam,” harap Asmuni. (*)
