YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Kolaborasi tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Informatika dan Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri (FTI) serta Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil mengembangkan RespiraTB. Suatu alat untuk mendeteksi dini penyakit Tuberkulosis (TBC) ini berhasil menjadi Juara I Katagori Penelitian Entrepreneur pada The 12th Universitas Teuku Umar (UTU) Awards International bulan September 2026.
Ketiga mahasiswa UII angkatan 2025 tersebut adalah Afwan Aditya Saputra (Ketua Tim), mahasiswa Prodi Informatika Program Sarjana FTI; Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar, mahasiswa Prodi Manajemen Rekayasa FTI; Isfana Fatimah Darman, mahasiswa Program Studi Kedokteran. Mereka dibawah bimbingan Ir Ali Parkhan, MT, Dosen Program Studi Teknik Industri FTI UII.
Afwan Aditya Saputra menjelaskan RespiraTB merupakan platform wearable berbasis sensor accelerometer untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Inovasi tersebut dirancang sebagai alat skrining awal untuk membantu mendorong masyarakat yang memiliki gejala mencurigakan tuberkulosis (TBC) agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
RespiraTB, jelas Aditya Saputra, memanfaatkan sensor accelerometer/IMU untuk membaca perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data diproses menggunakan ESP32, algoritma filtering, serta sistem skoring berbasis ambang statistik sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui platform Firebase. Sistem dirancang untuk memantau respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB).
Hasil pengujian menunjukkan RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate sebesar 96,28 persen dibandingkan penghitungan manual. Deviasi maksimal yang ditemukan sebesar satu napas per menit. Sementara itu, sensor accelerometer MPU6050 memperoleh akurasi rata-rata 92,08 persen dalam pengujian terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes).

Sistem juga diuji melalui empat skenario, yakni sensor terhubung, kondisi normal, perlu pemantauan, dan segera diperiksa. Seluruh skenario menunjukkan keberhasilan klasifikasi 100 persen sesuai kategori yang ditetapkan. Pengiriman data dari ESP32 ke Firebase mencapai tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.
Dalam rancangan aplikasinya, RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan dalam skala 0–100 yang dikategorikan menjadi Normal, Perlu Pemantauan, dan Segera Periksa. Aplikasi juga menampilkan laju napas, aktivitas otot aksesori, pola napas, serta gejala subjektif. Apabila skor meningkat secara konsisten, sistem memberikan notifikasi dan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
“Tim menegaskan RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan RR dan WoB. Diagnosis definitif TBC tetap memerlukan pemeriksaan medis profesional,” kata Aditya Saputra.
Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Tim menilai gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius sehingga pemeriksaan medis dilakukan setelah kondisi memburuk. Karena itu, teknologi wearable diposisikan sebagai sarana pemantauan yang dapat memberikan informasi kondisi pernapasan secara kontinu.
Sedang sisi model bisnis, tim memproyeksikan pasar RespiraTB melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Pendekatan B2B diarahkan melalui kemitraan dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta mitra seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund. Pendekatan B2C dilakukan melalui kanal digital, edukasi komunitas, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan masyarakat.
Riset tersebut memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) sebesar Rp 1,035 triliun per tahun. Fokus awal diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan estimasi Serviceable Available Market (SAM) Rp 436,2 miliar per tahun. “Pada tahun pertama, tim menargetkan penjualan 1.380 unit dengan harga Rp 950.000 per unit atau sekitar Rp 1,31 miliar,” katanya.
Sementara Dr Ir Agus Mansur, ST, M Eng Sc, IPU, ASEAN Eng, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII merasa bangga atas prestasi mahasiswa yang menjadi juara di The 12th UTU Award International 2026. FTI tidak henti-hentinya memberikan dukungan kepada para mahasiswa untuk berprestasi.
UII juga terus mendorong agar mahasiswa dari berbagai Prodi melakukan kolaborasi untuk menghasilkan inovasi. Sebab knowledge yang dihimpun dari berbagai macam sumber akan melahirkan teknologi. “Enggak mungkin orang FTI itu paham tentang kedokteran secara detail. Sebaliknya, mahasiswa kedokteran enggak mungkin mengembangkan alat dengan teknologi yang menggunakan banyak sekali pendekatan ke-TI-an, keinformatikaan, rekayasa sistem engineering. Perlu koloborasi,” kata Agus Mansur. (*)
