Anggota Mapala Unisi Dibekali Ketrampilan Ecoprint

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Anggota Mapala Unisi mendapat pembekalan ketrampilan membuat batik dengan teknik ecoprint, sibori, dan rajut. Pembekalan ini dimaksudkan agar anggota Mapala Unisi dapat menularkan ketrampilan tersebut kepada ibu-ibu korban bencana alam.

Ketrampilan diberikan empat Anggota Luar Biasa Mapala Unisi, Diah Lestari, Lukitorani Boerhan, Rina Prodjorachmanto,  dan  Endra Wahyu di tempat workshop Perumahan Kartidah, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (10/1/2019). Dalam pelatihan ini, anggota Mapala Unisi diberi contoh dan mempraktekan sendiri hingga menghasilkan kain ecoprint.

Dijelaskan Diah, pelatihan dimaksudkan untuk membekali anggota Tim SAR (Search and Rescue) Mapala Unisi agar dapat membuat program untuk trauma healing dan pemberdayaan ekonomi korban bencana. Selama ini, trauma healing itu hanya merambah anak-anak.

“Sedangkan ibu-ibunya belum tersentuh. Adanya ketrampilan ini anggota Mapala Unisi bisa membuat program trauma healing bagi ibu-ibu korban bencana. Syukur dengan karya ini bisa menghasilkan uang,” kata Diah.

Kain batik dengan teknik ecoprint yang dihasilkan Anggota Luar Biasa Mapala Unisi di Bantul, DIY, Kamis (10/1/2019). (foto : heri purwata)

Karya ibu-ibu korban bencana, lanjut Diah, bisa berupa kain batik dengan sistem ecoprint, sibori, serta kerajinan rajut. Karya ini bisa dipamerkan dan dijual di kepada pengunjung yang mendatangi lokasi bencana.

“Selama ini, lokasi bencana banyak dikunjungi orang. Baik mereka yang ingin menyalurkan bantuan maupun sekedar untuk melihat dari dekat lokasi bencana. Pada kesempatan itu hasil kerajinan ibu-ibu korban bencana bisa ditawarkan kepada pengunjung,” ujar Diah.

Selain itu, kata Diah, ketrampilan ini juga dimaksudkan untuk membekali anggota Mapala Unisi agar aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa mitra kerja. Salah satu mitra kerja, desa-desa yang ada di lereng Gunung Merapi.

Menurut Diah, anggota Mapala Unisi bisa membuat produk batik dengan teknik ecoprint dan siboro, serta rajut. Selanjutnya, produk tersebut dijual dan hasil penjualannya digunakan untuk membantu korban bencana.

“Upaya ini diharapkan bisa mengangkat citra Mapala Unisi dalam memberikan bantuan terhadap korban bencana. Melengkapi apa yang sudah dilakukan selama ini,” tandas Diah.

Sementara Ulfa Uliana, anggota Mapala Unisi GC 37 yang mengikuti pelatihan merasa senang mendapatkan ketrampilan ini. Sebab ketrampilan ini tidak hanya berguna selama menjadi anggota Mapala Unisi saja.

“Senang mendapat ketrampilan ini. Sebab bahan-bahannya sengaja mengambil potensi yang ada di sekitar kita. Ini sangat cocok dengan kondisi korban bencana yang serba darurat,” kata Ulfa Uliana, mahasiswa Program Studi Arsitektur angkatan 2016 ini.

About The Author

Reply