Umat Islam Perlu Tingkatkan Chaplaincy

YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Prof Dr Salih Yucel mengingatkan umat Islam sudah tertinggal jauh dalam bidang chaplaincy dibandingkan dengan agama lain. Para Imam Muslim tidak sadar akan ilmu psikologi, ilmu budaya dan perbedaan budaya. Sehingga para Imam Muslim dalam memberikan pelayanan terhadap umat manusia belum optimal.

Prof Salih Yucel, Associate Professor di Pusat Studi Islam untuk Studi dan Peradaban Islam di Charles Sturt University Sydney, Australia mengemukakan hal tersebut pada ‘Guest Lecturer’ Islamic Chaplaincy di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (PPs FIAI UII) Yogyakarta, Kamis (12/4/2018). Kuliah tamu tentang layanan pendidikan dan bimbingan agama untuk konseling diikuti mahasiswa pascasarjana FIAI UII Yogyakarta.

Lebih lanjut Salih mengatakan chaplaincy adalah bidang di mana umat Islam dapat melengkapi diri sendiri dengan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan. Sehingga kemampuan tersebut dapat menjadikan umat Islam memberikan pelayan yang holistik bagi khalayak luas.

Dr Hujair AH Sanaky (kiri) dan Dr Yusdani, Sekretaris PPs FIAI UII bersama mahasiswa mengikuti kuliah tamu Prof Salih Yucel di Kampus UII Demangan Yogyakarta, Kamis (12/4/2018). (foto : heri purwata)

Pelayanan dalam islam, kata Salih, bukan hanya hak orang saja yang diperhatikan, tetapi hak hewan juga harus diperhatikan. “Dalam sejarah peradaban kita, para orang sufi pernah punya tradisi untuk melayani hewan dulu tiga tahun, setelah itu baru pantas melayani manusia,” katanya.

Menurut Salih, hal yang perlu dikembangkan adalah rasa kasih sayang dan empati. “Selama ini kita belum dilatih cukup untuk melakukannya. Sedangkan dalam agama-agama lain, teknik-teknik dan metode-metode sudah mereka kuasai,” ujarnya.

Chaplaincy mengajarkan umat Islam metode melayani orang-orang. Bukan hanya muslim, tetapi untuk seluruh umat. “Ketika kita melayani orang dengan sungguh-sungguh maka kita menjadi unggul di tempat itu,” kata Salih.

Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa 50%  orang-orang lari dari Islam karena metode yang salah. Sedangkan 92% dari orang Amerika Serikat pindah ke agama Islam, bukan karena dakwah lisan. Tetapi mereka memeluk Islam karena melihat orang Islam bertindak dengan baik.

Karena itu, Salih menyarankan agar bukan hanya mahasiswa pendidikan Islam yang harus belajar chaplaincy. Namun para dokter, para pekerja kesehatan, para pekerja sosial, semua umat Islam harus mulai mempelajarinya.

Sementara Direktur Pascasarjana FIAI UII, Dr Hujair AH Sanaky MSI mengatakan kuliah tamu ini berbicara tentang perspektif pelayanan. “Kita membutuhkan tenaga yang dilatih agar bisa terjun di bidang chaplaincy atau layanan pendidikan dan bimbingan agama untuk konseling. Para pelayan harus memiliki unsur ikhlas dan sabar. Tenaga ini harus kita persiapkan,” kata Hujair Sanaky.

Selama ini, kata Hujair Sanaky, Indonesia sudah memiliki tenaga layanan pendidikan dan bimbingan agama untuk konseling. Namun tenaga-tenaga tersebut belum komprehensif. Untuk bisa memberikan pelayanan yang baik dibutuhkan pemahaman psikologi, pendidikan, dan pembinaan.






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *