UII dan URI Sosialisasi Penanganan Stroke

YOGYAKARTA — Program Studi (Prodi) Farmasi, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) bekerjasama dengan University Rhode Island (URI) Amerika Serikat melakukan sosialisasi penanganan stroke, hipertensi dan dampingan berhenti merokok. Kerjasama yang diberi nama J-Term ini dilaksanakan di Kampus UII, tiga Puskesmas dan desa binaan UII.

Demikian dikatakan Pinus Jumaryatno, SSi, MPhil, PhD. Apt, Ketua Prodi Farmasi FMIPA UII kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (13/1/2018). Sembilan mahasiswa dan satu dosen dari URI didampingi 10 mahasiswa UII serta sejumlah dosen FMIPA UII melakukan sosialisasi di Puskesmas dan desa binaan.

Mahasiswa URI, kata Pinus, berasal dari Prodi Farmasi, Biologi, Keperawatan dan satu dosen pakar penyakit stroke bernama Dr Nicole Asal. “Sosialisasi dilakukan di Puskesmas Ngemplak I dan II, serta di Puskesmas Mlati II. Juga dilaksanakan di dua desa binaan UII,” katanya.

Dijelaskan Pinus, sosialisasi ketiga materi ini dipilih karena ada kaitan satu sama lain. Kebiasaan merokok dan hipertensi merupakan dua hal yang mempengaruhi munculnya penyakit stroke. Sedang penyakit ini bisa diderita dari semua lapisan ekonomi masyarakat.

Kerjasama ini diharapkan dapat menelorkan panduan sosialisasi penanganan stroke, hipertensi dan berhenti merokok kepada masyarakat. “Dalam sosialisasi ini masyarakat diajarkan tentang mengenali gejala stroke, penanganan awal, dan pencegahannya. Sebab selama ini stroke menjadi silent killer bagi masyarakat,” kata Pinus.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, warga lapisan bawah (miskin) memiliki prevalensi penyakit stroke lebih tinggi dibandingkan dengan warga lapisan menengah dan atas. Bila kondisi ini dibiarkan tentu akan membebani pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Hasil Riskesdas 2013, prevalensi penderita stroke lapisan terbawah sebesar 13,1 persen. Lapisan menengah bawah 12,6 persen, menengah 12 persen, menengah atas 11,8 persen, dan lapisan atas sebesar 11,2 persen. Sedang beban biaya rawat inap sampai tuntas untukpenyakit stroke menempati posisi tertinggi dibanding penyakit tidak menular (PTM) lain yaitu sebesar Rp 794,08 miliar.

About The Author

Reply