Biji Karet, Bahan Kripik Tempe Alternatif

JEMBER — Tim dosen Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FP MIPA) Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Jember, Jawa Timur berhasil membuat kripik tempe berbahan dasar biji karet. Mereka terdiri dari Dwi Sucianingtyas Sukamto SP MP, Ismul Mauludin Al Habib SPd MP dan Lila Maharani SP MP.

Dijelaskan Dwi Sucianingtyas Sukamto, penelitian yang dimulai tahun 2014 terinspirasi banyak biji karet di Kabupaten Jember tidak dimanfaatkan. “Padahal, biji karet memiliki kandungan minyak nabati, asam lemak tak jenuh sehingga cocok sebagai bahan baku pembuatan makanan yang sehat,” kata Sucianingtyas di Jember, Selasa (5/12/2017).

Lebih lanjut Suci memaparkan Kabupaten Jember memiliki perkebunan karet yang luas. Banyak biji karet yang dihasilkan, tetapi masyarakat jarang memanfaatkannya. “Biji karet selama ini hampir tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali. Hanya klon tertentu yang dimanfaatkan sebagai benih generatif untuk batang bawah pohon karet saja. Sedangkan klon batang atas tidak dimanfaatkan,” ungkap Suci yang menjadi ketua tim penelitian.

Menurut Suci, biji karet memiliki kandungan protein dan asam amino yang banyak dibutuhkan tubuh. “Dari komposisinya, tempe biji karet memiliki komposisi protein sebesar 12,3 persen, lemak sebesar 36,81 persen, air sebanyak 37,62 persen, dan karbohidrat sebesar 12,28 persen,” ujar Suci yang diiyakan anggota tim lain.

Jika dibanding jenis kacang-kacangan lainnya, kata Suci, kandungan protein karet ini cukup tinggi dan dapat berpotensi sebagai alternatif pembuatan tempe. Tetapi perlu diingat biji karet memiliki asam sianida yang dapat menjadi racun jika salah mengolah.

“Asam sianida ini dapat dihilangkan jika dilakukan perendaman, perebusan dan pembuangan kulit ari serta bakal daunnya. Ada empat cara untuk menghilangkan asam sianida antara lain perendaman selama 24 jam, pengukusan pada suhu 100 derajat selama enam jam, penjemuran di bawah sinar matahari selama 12 jam, atau kombinasi antara penjemuran dan perendaman selama 12 jam,” lanjut Suci.

Berdasarkan hasil penelitian, tempe biji karet memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan dengan tempe biji kedelai. Sebab tekstur tempe semakin lunak karena proses fermentasi.

Selama proses fermentasi pada pembuatan tempe, biji karet akan mengalami perubahan fisik terutama tekstur. “Tekstur biji karet akan semakin lunak karena terjadi penurunan selulosa menjadi bentuk yang lebih sederhana,” imbuhnya.

Secara ekonomis, pembuatan tempe dari biji karet ini juga bisa dibilang cukup minim biaya. Tak heran jika saat dilakukan sosialisasi pada masyarakat di Kecamatan Silo, para wanita terlihat antusias dalam memperhatikan materi yang diberikan, dan terlihat sangat terampil dalam menerapkan cara pembuatan keripik tempe biji karet.

Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat menyambut positif kegiatan yang telah dilakukan dosen IKIP PGRI Jember ini. Mereka sangat mengharapkan adanya kegitan-kegiatan yang sifatnya memberi pengetahuan bagi ibu-ibu di daerah ini, dalam memanfaatkan bahan-bahan di sekitar untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mereka juga berharap agar dilakukan kegiatan secara berkesinambungan dan disarankan untuk mengembangkan produk lain yang berbahan dasar biji karet, sehingga bisa diadakan pelatihan kembali,” ujarnya.

IKIP PGRI Jember selalu mendapatkan hibah penelitian dan pengabdian setiap tahunnya. Hal ini menambah semangat dosen untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. “Hasil penelitian ini merupakan salah satu implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tandasnya. (Dwi Sucianingtyas Sukamto)

About The Author

Reply