Perguruan Tinggi Harus Tingkatkan Digital Skill Lulusan

SLEMAN — Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V Yogyakarta Dr Ir Bambang Supriyadi, CES, DEA menandaskan agar perguruan tinggi tidak hanya membekali mahasiswa academic skill saja. Namun mahasiswa perlu dibekali dengan digital skill dan berkomunikasi dalam bahasa asing.

Bambang Supriyadi mengungkapkan hal tersebut pada sambutan Sidang Terbuka Senat Milad ke 74 Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta di Auditorium Kahar Mudzakkir, Selasa (25/4/2017). Sidang dihadiri Dr Didik Purwadi mewakili Gubernur DIY, tamu undangan, dan civitas akademika UII.

Lebih lanjut Bambang Supriyadi mengatakan mahasiswa juga perlu dibekali dengan kewirausahaan. Sehingga alumni peruguruan tinggi tidak banyak yang menjadi pengangguran dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Saat ini, Indonesia yang berpenduduk 250 juta memiliki 4.300 perguruan tinggi dan ini merupakan negara terbanyak memiliki perguruan tinggi di dunia. Sedang Cina yang memiliki penduduk kurang lebih satu miliar jiwa hanya memiliki 3.000 perguruan tinggi.

“Ini untuk mengejar akses 30 persen dari seluruh penduduk memiliki pendidikan tinggi. Diharapkan lulusan perguruan tinggi ini bisa menggantikan tenaga kerja yang hanya lulusan SD, SMP dan SMA,” kata Bambang.

Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kata Bambang, telah mendominasi pendidikan perguruan tinggi di Indonesia. Mahasiswa PTS sebanyak 3,9 juta orang, sedangkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya memiliki mahasiswa 1,8 juta orang. Karena itu, adanya academic skill yang didukung dengan dengan digital skill, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing yang baik dan jiwa wirausaha dapat menekan jumlah pengangguran.

Sedang Rektor UII Yogyakarta, Nandang Sutrisno SH, LLM, MHum, PhD mengatakan selama 74 tahun yang semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI) yang didirikan di Jakarta telah memberikan peran dan kontribusi kepda bangsa Indonesia. Ilmu pengetahuan yang telah ditransformasikan kepada mahasiswa diharapkan bisa menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, bumi pertiwi Indonesia, “Karena itu, tema Milad UII kali ini dipilih ‘Universitas Islam Indonesia Membangun Bumi Pertiwi),” kata Nandang.

Sebagai perguruan tinggi Islam, kata Nandang, UII selalu mempertahankan ciri keislaman dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin komplek. UII juga berkomitmen untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara dengan mengintegrasikan ilmu umum dan agama.

UII juga meningkatkan kualitas dan kuantitas dosen untuk mencapai rasio dosen-mahasiswa yang ideal sesuai dengan standar Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT). “Tahun 2016, sebanyak 11 dosen berhasil menyelesaikan studi jenjang doktor, sehingga UII memiliki 20,21 persen dosen yang berpendidikan Strata Tiga (S3) atau setara,” kata Nandang.

Tahun 2016, UII memiliki 46 program studi dari jenjang D3, S1, Profesi, S2, dan S3. Sebanyak 47,83 persen program studi sudah terakreditasi A, 39,13 persen terakreditasi B, dan 13,04 persen terakreditasi C. Ke depan UII akan membuka Prodi baru yaitu Program Sarjana (S1) Teknik Tekstil dan Program Doktor (S3) Teknik Sipil.

Selama tahun 2016, mahasiswa UII juga berhasil menorehkan prestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya, prestasi Tim PKM UII di PIMNAS berhasil menggondol satu medali perak dan satu medali perunggu. Tim Mobil Listrik meraih juara I nasional katagori Teknologi Pengereman pada Kompetisi Mobil Listrik Indonesia 2016.

Sedang di tingkat internasional, tim IPDC UII berhasil menyabet enam (6) penghargaan, di antaranya, 9th International Floklore Festival di Saint Peterberg, Rusia. Tim Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Miracle Voice UII meraih dua penghargaan pada 1st Lanna International Choir Competition di Thailand.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply