UIN Suka Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir

YOGYAKARTA — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD), Rabu-Selasa (18-24/1/2017). Kursus yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kwartir Cabang Kota Yogyakarta ini diikuti sebanyak 112 calon pembina yang terdiri dari mahasiswa dan guru.

Demikian dikatakan Koordinator KMD, Alfian Huda pada pembukaan KMD di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTKIP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (18/1/2017). Peserta KMD berasal dari UII, UPN, STIE YKPN, SMA 6 Yogyakarta, dan SDIT International Lukman Hakim.

Dijelaskan Alfian, kegiatan KMD ini dilaksanakan dalam dua sesi. Pertama diselenggarakan di dalam ruangan. Peserta menerima materi Pramuka dasar dengan menggunakan metode discussion group sesama peserta serta fasilitator pelatih dari Kwarcab Kota Yogyakarta. Sesi kedua, diselenggarakan di luar ruangan dengan kegiatan berkemah.

“KMD ini sangat penting bagi calon pembina yang akan terjun langsung di Gugus Depan yaitu mulai siswa SD/MI,SMP, SMA/MA. Kegiatan ini berfungsi sebagai legalitas resmi sebagai seorang pembina,” kata Alfian.

Peserta kurus pembina pramuka saat pembukaan di Kampus UIN Suka, Rabu (18/1/2017). (foto : humas UIN Suka)

Sekretaris Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Drs Nur Hidayat MAg mengatakan pemuda adalah pemimpin di masa mendatang. Kegiatan ini diharapkan bisa mencetak peserta menjadi pribadi yang berkarakter, berakhlak terpuji, mandiri, semangat bekerja keras dan disiplin.

“Mudah-mudahan kalian menjadi insan-insan yang berguna bagi masyarakat dan bangsa. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya” kata Nur Hidayat.

Sementara Wakil Ketua Pengurus Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa) dari Pusat Pendidikan dan Latihan Kwarcab Kota Yogyakarta, Prayogo Ontowiryo SE MG mengatakan pendidikan karakter bagi anak-anak saat ini sangat penting. Sebagai calon guru pasti akan berhadapan dengan anak-anak, dan pembinaan akhlak harus dimulai sejak anak usia siaga. “Ibarat membuat rumah, pondasi itu harus kuat dahulu,” tandas Prayogo.






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *