Instiper dan Pusri Tandatangani Naskah Kerjasama

Rektor Instiper, Purwadi dan M Romli bertukar naskah kerjasama yang sudah ditandatangani di Yogyakarta, Jumat (11/11/2016). (foto: heri purwata)

Rektor Instiper, Purwadi dan M Romli bertukar naskah kerjasama yang sudah ditandatangani di Yogyakarta, Jumat (11/11/2016). (foto: heri purwata)

YOGYAKARTA — Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta melakukan kerjasama dengan PT Pupuk Sriwijaya Palembang. Naskah kerjasama ditandatangani Rektor Dr Ir Purwadi MS dan M Romli HM, Direktur Komersil PT Pupuk Sriwijaya di Kampus Instiper, Yogyakarta, Jumat (11/11/2016).

Menurut Rektor Instiper, Purwadi, kerjasama ini meliputi bidang penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan dan pelatihan, pemberdayaan petani dan berbagai bantuan lain. Instiper yang didirikan tahun 1958 memiliki kompetensi di bidang pembibitan dan pendidikan kehutanan. “Instiper menjadi perguruan tinggi yang leading di bidang pertanian dan kehutanan,” kata Purwadi.

Lebih lanjut Purwadi mengatakan kurikulum Instiper menekankan pendidikan pada kompetensi kerja (job competeny based learning). Mahasiswa juga dibekali dengan pendidikan karakter (character building job based) bagi planter dan forester, kemampuan memanage industri (skill building management job competency industrial based), kemampuan menciptakan lapangan kerja (skill building job/competency mini plan based) dan kompetensi menganalisa (analysis competency based).

Untuk mengembleng mahasiswa, Instiper memiliki kebun yang digunakan untuk proses pendidikan dan penelitian. Kebun seluas 13 hektare ini bernama Stiper Edu Agro Tourism (SEAT) yang berada di Ambarawa, Jawa Tengah. “Mahasiswa juga dibekali dengan ilmu beladiri,” kata Purwadi.

Sementara M Romli mengemukakan kerjasama ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan PT Pusri dengan Instiper Yogyakarta. Terutama dalam bidang pendidikan pertanian dan kehutanan bagi generasi muda.

Selama ini, kata Romli, PT Pusri Palembang dikenal masyarakat, khususnya di Jawa, bukan melalui jalur formal. Melainkan dari kendaraan yang mengangkut pupuk Pusri untuk didistribusikan ke Jawa.

“Palembang kan jauh dari Jawa, tetapi banyak anak muda yang mendaftarkan menjadi tenaga kerja di sana. Kemudian saya tanya dari mana mereka tahu tentang pupuk Sriwijaya. Jawabnya, mereka tahu Pupuk Pusri dari tulisan di gerbong kereta api yang mendistribusikan ke Jawa,” kata Romli.

Selain itu, lanjut Romli, kerjasama ini juga diharapkan bisa memberikan pendidikan kepada tenaga perkebunan dan kehutanan cara pemupukan yang baik. Saat ini, masih banyak tenaga perkebunan dan kehutanan yang belum menguasai cara pemupukan yang baik.

“Kita menjual pupuk ke sebuah perkebunan yang masih menggunakan cara pemupukan manual. Ternyata hasilnya, tanaman yang ada di depan tinggi-tinggi, sedang yang di belakang pendek. Ini artinya pemupukan pada tanaman di depan banyak, sedang tanaman di belakang sedikit. Hal ini yang perlu dibenahi,” kata Romli.

Penulis : Heri Purwata

About The Author

Reply