Pembaharuan Pendidikan KH Dahlan tak Dapat Perhatian

Dr Alwi Shihab saat relaunching buku di UMY, Kamis (19/2016). (foto : istimewa)

Dr Alwi Shihab saat relaunching buku di UMY, Kamis (19/2016). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA — Pembaharuan pendidikan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan kurang mendapat perhatian pengamat dan ilmuwan. Padahal sekolah yang didirikan KH Ahmad Dahlan telah memiliki kualitas setara dengan sekolah milik negara.

Demikian diungkapkan Dr Alwi Shihab para relaunching buku “Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia,” di Amphi Teater Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (20/10/2016). Pembaharuan pendidikan tersebut dimaksudkan untuk membendung arus kristenisasi yang berawal di Jawa dan sekitarnya.

“Cara Ahmad Dahlan dalam membendung arus kristenisasi seperti ini belum diketahui banyak orang. Muhammadiyah yang dipimpin Ahmad Dahlan saat itu membendung arus kristenisasi dengan cara bersaing secara sehat tanpa menebar benih permusuhan dengan pihak kristen,” kata Alwi.

Muhammadiyah, lanjut Alwi, memiliki empat misi yaitu pembaruan agama, perubahan sosial, kekuatan politik, serta pembendung kristenisasi. Dalam pembaruan agama, Muhammadiyah tertuju kepada tradisionalisme Islam dan Jawaisme. “Maka tiga peran yang lain termasuk pembendung kristenisasi ditujukan kepada modernisme kolonial, khususnya di bidang pendidikan,” ujar Alwi.

Lebih lanjut Alwi menjelaskan, tulisan tersebut merupakan hasil penelitian di studi lanjut program doktor Universitas Temple Amerika Serikat. Ia menemukan strategi Muhammadiyah dalam membendung arus kristenisasi melalui persaingan kelas. Bentuk persaingan kelas yang dilakukan Muhammadiyah adalah dengan membangun pendidikan modern yang tetap bertumpu pada Alquran dan Aqidah Islam.

“Untuk membendung kristenisasi ini, Muhammadiyah tidak melibatkan kekerasan fisik. Tetapi melalui strategi pembangunan pendidikan yang justru belum banyak diketahui orang, seperti pendirian sekolah modern yang sejajar dengan kualitas bangsa Barat. Saat itu belum ada sekolah modern, sekolah yang ada hanya sekolah tradisional (pesantren) yang masih dianggap kolot oleh Kolonial dan dianggap belum mengikuti zaman. Amal usaha Muhammadiyah inilah yang menjadi bentuk kemandirian dan kemajuan Islam saat ini,” katanya.
Hal tersebut sebagai tertuang dalam buku “Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia”, karya Dr. Alwi Shihab.
Sementara Prof Jimly Asshiddiqie, salah satu pembicara dalam diskusi buku tersebut mengungkapkan perlunya belajar dari perkembangan Muhammadiyah yang menjadi organisasi terbesar di dunia. Muhammadiyah dinilai efektif dalam berorganisasi, serta memiliki ideologi yang membuat keluarga besar Muhammadiyah memiliki partisipasi yang kuat.

“Sekarang kita sedang menghadapi neoliberal di segala bidang. Seperti yang paling berdampak adalah kondisi yang berakibat pada perebutan kekuasaan, dan dalam pencapaian segala bidang berdasarkan oleh materi. Buku yang ditulis oleh Dr. Alwi ini memberikan gambaran terkait rasional dalam beragama, dan tidak terlalu retorika sehingga dengan mudahnya mengumbar amarah.

“Kita perlu belajar dari Muhammadiyah dalam menghadapi kasus-kasus yang sedang berlangsung saat ini. Semoga dapat menyadarkan para aktifis dan intelektual untuk belajar dari Kh. Ahmad Dahlan, yaitu bersaing dengan cara yang sehat,” kata Jimly Asshiddiqie yang juga Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ICMI) tersebut.

Penulis : Heri Purwata






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *