Filsafat Serat Centhini Lebih Mendalam Dibandingkan Barat

Elizabeth D Inandiak foto bersama seusai diskusi di Fakultas Filsafat UGM, Jumat 921/10/2016). (foto : istimewa)

Elizabeth D Inandiak foto bersama seusai diskusi di Fakultas Filsafat UGM, Jumat 921/10/2016). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA — Kandungan filsafat dalam Serat Centhini, jauh lebih mendalam dibandingkan dengan filsafat Barat. Serat Centhini juga bukan sekedar kisah fiksi biasa. Tetapi ceritanya mengandung nilai-nilai filsafat yang mendalam yang bisa dikaitkan dengan kehidupan riil para pembacanya.

Elizabeth D Inandiak mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi bulanan Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus) di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (21/10/2016). Serat Centhini merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Buku ini sering disebut sebagai Ensiklopedi Budaya Jawa dan merupakan buku yang kaya dengan perincian situasi dan peristiwa.

Kandungan filsafat yang mendalam ini menarik Elizabeth untuk menuliskan kembali kisah Centhini melalui buku berjudul ‘Centhini, Kekasih yang Tersembunyi.’ Penulis berkebangsaan Perancis ini menilai Serat Centhini sebagai suatu kekayaan khasanah filsafat Timur.

“Saya selalu diberitahukan oleh guru filsafat saya di Perancis bahwa filsafat cuma ada di Barat. Yang ada di Timur bukan filsafat karena tercampur dengan agama dan kepercayaan. Saya dibesarkan dengan kepercayaan itu sampai saya ke Indonesia dan saya menemukan bahwa ada filsafat juga di Timur yang mungkin lebih mendalam,” kata Elizabeth.

Lebih lanjut Elizabeth membandingkan pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam Serat Centhini dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi inti filsafat Barat. Jika filsafat Barat bertanya-tanya mengenai arti kehidupan, sedang di dalam Serat Centhini terdapat pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih mendalam.

“Filsafat Barat mungkin bertanya-tanya arti hidup itu apa. Tapi dari Serat Centhini ada pertanyaan yang lain, bukan hanya ‘apa arti kehidupan’, ‘dari mana kita berasal’, dan ‘ke mana kita akan pergi’, tetapi juga ‘apa itu kenyataan atau kesunyataan’,” kata Elizabeth.

Ia juga mengulas konsep kenyataan atau kesunyataan yang tersirat di balik alegori tari topeng, kelir wayang, dan ilmu sulap yang menjadi bagian dari kisah tersebut. Ketiga alegori itu, kata Elizabeth, memang bisa dibaca sebagai hiburan saja.

Tetapi untuk banyak hal termasuk seksualitas, Serat Centhini mempunyai maksud yang lebih dalam untuk memberikan makna yang lebih jeli. Ini menjadi tanggung jawab dari para pembaca untuk memahami arti yang lebih dalam dari Serat Centhini.

Ia mengangkat beberapa bagian dari kisah Centhini yang ia pandang menarik. Misalnya mengenai tokoh Cebolang yang digambarkan sebagai sosok remaja nakal yang pergi mengembara untuk mencari jati diri.

“Di sini Serat Centhini bisa dibaca sebagai buku yang bebas, liar, atau bisa dibaca bagaimana tokoh-tokoh seperti Cebolang mencari jati diri dalam kenakalan. Saya pikir itu sangat luar biasa karena jarang sekali ada karya adiluhung seperti Serat Centhini yang bisa menggambarkan kelana seorang remaja dari masyarakat biasa,” ujarnya.

Selain itu, kisah ini juga menyajikan pemandangan yang menarik mengenai bagaimana nilai-nilai filsafat yang bernilai tinggi itu keluar dari tokoh-tokoh yang mungkin dianggap remeh atau di tempat-tempat yang dianggap kurang layak. Hal ini, menurutnya, memberikan makna bahwa nilai-nilai filsafat bukan sekedar menjadi suatu pengetahuan yang dipelajari oleh orang-orang berilmu di universitas, tetapi untuk dihidupkan di tengah-tengah masyarakat.

“Yang penting bagaimana filsafat digerakkan di dalam kehidupan. Filsafat bisa dibahas dalam universitas, tapi filsafat adalah sesuatu yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari juga. Serat Centhini membuktikan hal itu,” tandasnya.

Penulis : Heri Purwata






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *