Rektor UIN Suka : Gelorakan Semangat Mempelajari Ilmu Pengetahuan

YOGYAKARTA — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof KH Yudian Wahyudi, MA PhD menandaskan kemunduran Islam disebabkan umat muslim membuang eksperimental sciences. Selain itu, proses produksi dan pembaruan ekonomi tidak terjadi pada umat Islam secara keseluruhan.

Yudian Wahyudi mengemukakan hal itu ketika seminar nasional ‘Peningkatan Riset dan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) pada Lembaga Keuangan Islam: Menjawab Tantangan serta Trend Produk Lembaga Keuangan Islam di Era Global’ di Kampus UIN Suka Yogyakarta, Rabu (19/10/2016).

Karena itu, kata Yudian, ke depan perlu digelorakan lagi semangat mempelajari ilmu pengetahuan seperti ekonomi, manajemen dan ilmu terapan lainnya. “Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan revolusi Islam yang bermanfaat bagi masyarakat,” tandas Yudian.

Lebih lanjut Yudian mengatakan, saat ini, dakwah tidak bisa memakai pengeras suara lewat majelis atau pengajian saja. Namun alumni dan mahasiswa Program Studi Dakwah bisa membantu umat Islam, terlebih negara agar bisa lebih baik. “Dengan materi keagamaan dan tidak melepas dari prasyarat materi ekonomi yang sesuai dengan Islam,” kata Yudian.

Seminar yang digelar Prodi Manajemen Dakwah menghadirkan empat pembicara yaitu Masyuri PhD (Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia Jakarta), Drs Cahya Widi MM (Direktur Umum PT Bank BPD DIY), Basuki Purwadi SH MH (Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan RI), Drs Achmad Tohirin MA PhD (Dosen Universitas Islam Indonesia). Peserta mahasiswa, dosen UIN Sunan Kalijaga dan perwakilan Kepala Program Studi Manajemen Dakwah se-Indonesia.

Dalam paparannya, Basuki Purwadi menilai lembaga keuangan syariah, khususnya produk perbankan syariah belum efisien dan masih terbatas. Karena itu, perlu dilakukan riset agar dapat mendorong munculnya inovasi produk.

“Melihat pesatnya pertumbuhan perbankan Islam, diperlukan juga sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten. Salah satunya melalui dakwah dengan penyampaian informasi kepada masyarakat secara baik dan benar terkait perbankan Islam. Sehingga akan tumbuh kepercayaan pada nasabah,” kata Basuki.

Sedang Cahya Widi menuturkan tantangan utama perbankan syariah adalah teknologi informasi dan jaringan/outlet. Outlet dan teknologi informasi diperlukan untuk meningkatkan market accessibility dan penetrasi.

“Sebagai contoh produk dan jasa perbankan Bank BPD DIY Syariah dapat dilayani melalui 31 kantor jaringan layanan syariah PT Bank BPD DIY di seluruh wilayah DIY. Dengan demikian, Bank BPD DIY Syariah menjadi bank syariah yang memiliki jaringan layanan terbanyak di seluruh DIY,” kata Cahya Widi

Lebih lanjut Cahya Widi menambahkan SDM dan TI merupakan infrastruktur strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan pengembangan perbankan syariah. Sehingga diperlukan upaya dan usaha nyata secara berkesinambungan untuk dapat mencapai kualitas dan kuantitas SDM dan TI.

Sementara Achmad Tohirin mengatakan prinsip-prinsip ekonomika diperlukan untuk pengembangan perbankan syariah. Menurutnya prinsip-prinsip tersebut meliputi beberapa hal yaitu waktu adalah kerja (amal), aktivitas ekonomi didorong oleh insentif atau kompensasi. Selain itu juga penggunaan sumberdaya yang efisien, menyerahkan setiap urusan kepada ahlinya (profesionalisme), jaminan tingkat minimum atas hidup layak dan kesamaan kesempatan untuk memiliki, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya, tegasnya.

Penulis : Heri Purwata






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *