PR Harus Bisa Menepis Berita Negatif

Muhammad Husni sedang memberikan penjelasan kepada mahasiswa di UMY, Jumat (7/10/2016). (foto : istimewa)

Muhammad Husni sedang memberikan penjelasan kepada mahasiswa di UMY, Jumat (7/10/2016). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA — Profesi Public Relations (PR) harus bisa menepis berita negatif dari perusahaan tempat bekerjanya. Namun profesi PR juga ada sisi menyenangkan, di antaranya banyak kenalan baru dalam menjalankan tugasnya.

Demikian dikatakan Muchamad Husni, praktisi Public Relations PT Astra Argo Lestari pada Sharing Class : Public Relations and Ethics bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Yogyakarta, Jumat (7/10/206). Sharing Class ini juga menghadirkan pembicara lain yaitu Dyah Rachmawati Sugiyanto, Pranata Humas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dijelaskan Husni, banyak pengalaman yang diperoleh saat menjadi Public Relations (PR) di perusahaan swasta. Saat menjadi PR di perusahaan swasta yang mengelola minyak kelapa sawit menemui banyak tantangan.

Lebih lanjut Husni mengatakan perusahaan minyak kelapa sawit dalam industri minyak selalu dicitrakan negatif. Perusahaan kelapa sawit banyak menghadapi kampanye negatif, di antaranya, membunuh orang utan, minyak sawit tidak sehat karena dapat menambah kolesterol, dan masih banyak lainnya.

“Untuk itu, sebagai PR kita harus menjelaskan jika perusahaan sawit itu tidak seburuk yang diberitakan, bahkan bisa dibilang baik. Kelapa sawit bisa menjadi potensi nasional Indonesia yang luar biasa,” kata Husni.

Meskipun memiliki tugas berat, kata Husni, dirinya masih bisa menikmati sebagai PR. “Saya selalu menikmati keseharian pekerjaan saya. Kita bisa melihat potensi Indonesia yang luar biasa besarnya. Saya banyak kenal orang baru dan menambah pengalaman seru,” ujar Husni.

Selain itu, kata Husni, seorang PR harus jujur dan memberi informasi yang jelas. “Seorang PR itu harus mempunyai etika dan moral yang tinggi. Selain itu, juga harus bersikap jujur dan bisa memberikan informasi yang jelas. Senjata utama PR terletak pada inner beauty-nya yang biasa ditunjukkan sehari-hari,” katanya.

Sedang Dyah Rachmawati Sugiyanto, Pranata Humas LIPI mengatakan PR harus bisa menekankan etika, serta harus siap mental dan menjaga idealisnya. “Menjadi PR harus siap mental karena kita kerja di lapangan menghadapi langsung klien, harus siap kerja di manapun, kapanpun dan juga harus tetap menjaga idealisnya sebagai PR,” kata Husni.

Seorang PR, kata Dyah, juga dituntut memiliki kemauan belajar yang tinggi. ”PR butuh belajar semua hal. Tidak cuma ilmu komunikasi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan segala bidang lain harus dipelajari. Untuk itu perlu kemauan belajar yang tinggi. Selain itu, PR juga harus mempunyai sifat berani mencoba, bisa bekerja dalam tim dan juga pandai membangun jaringan,” ujarnya.

Penulis : Heri Purwata






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *