Bahasa Arab Memiliki Image Sulit Dipelajari

 

YOGYAKARTA — Bahasa Arab masih memiliki image sulit dipelajari bagi mahasiswa. Hal ini bisa menghambat mahasiswa untuk mempelajari Bahasa Arab yang sebetulnya sangat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Image sulit ini harus segera dihilangkan agar mahasiswa bisa masuk perguruan tinggi di Timur Tengah.

Demikian dikatakan promofendus, Ahmad Fauzi, MA dalam Sidang Promosi Doktor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana lantai 4 pada Sabtu (24/9/2016). Ahmad Fauzi mempertahankan desertasi berjudul “Aspek Psikologis dan Metodologis dalam Pengajaran Bahasa Arab di IAIN Surakarta.”

Lebih lanjut Ahmad menyebutkan sesuai penelitiannya terhadap mahasiswa IAIN Surakarta, ada perbedaan ketika mahasiswa belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. “Waktu belajar Bahasa Inggris, keinginannya kuat. Sedangkan waktu belajar Bahasa Arab, tidak ada keinginan untuk belajar. Padahal Bahasa Arab tidak susah, tetapi metodologi mengajarnya yang harus diperbaiki,” kata Ahmad.

Kesulitan belajar Bahasa Arab, kata Ahmad, dipengaruhi oleh sisi metodologis dan psikologis. Sisi metodologis merupakan cara mengajar bahasa Arab yang dinilai Ahmad, bahwa sistem yang diberlakukan guru di Indonesia masih kurang efektif. “Saat mahasiswa belajar bahasa Arab, seharusnya dimulai dengan listening atau mendengarkan. Bukan dengan menulis dan mengeja kata. Karena prinsipnya sama dengan bayi yang baru mau belajar bicara. Mereka mendengarkan orang lain bicara dulu, baru memulai belajar,” jelas Ahmad.

Kesalahan dalam metodologi lainnya adalah cara guru menyalahkan mahasiswa yang masih belajar. Ahmad mengungkapkan bahwa guru di Indonesia cenderung menyalahkan mahasiswa ketika berbicara atau mempraktikkan bahasa yang baru saja mereka pelajari. “Berdasarkan pengalaman kuliah saya di Sudan, ketika saya salah berbicara, guru tidak menyalahkan saya dan membiarkan saya melanjutkan perkataan saya. Terkadang dengan menyalahkan mahasiswa, akan dapat mempengaruhi mental belajar mahasiswa tersebut,” tutur Ahmad.

Sedangkan dari sisi psikologis, permasalahan berasal dari mental mahasiswa sendiri. Mahasiswa yang menerapkan mindset belajar bahasa Arab susah, akan cenderung mengalami kesulitan saat proses belajar. “Oleh karenanya, dosen atau pengajar bahasa Arab harus dapat membawa suasana mahasiswa. Kita harus membuat susana yang menyenangkan sehingga mahasiswa tidak bosan,” jelas Ahmad.

Dengan begitu, permasalahan psikologis juga memiliki kaitan dengan permasalahan metodologis dalam pembelajaran bahasa Arab. Pada intinya, pengajar harus dapat menumbuhkan mental senang belajar bahasa bagi mahasiswa, dengan metode mengajar yang variatif dan inovatif. Dalam Sidang Prmosi Doktor ini, Ahmad Fauzi dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. N

Penulis : Heri Purwata






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *