Kenali Aedes Aegypti sebagai Vektor Pembawa DBD di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul

Oleh : Hizkia Andrian Kristianto
Nomor Mahasiswa : 31180191
Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta
Email: hizkiaandrian@gmail.com

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu jenis penyakit endemik yang terdapat di seluruh wilayah tropis dan subtropis seperti Indonesia. DBD merupakan salah satu penyakit yang menimbulkan keresahan masyarakat karena mempunyai sifat menular dalam kurun waktu cepat dan bisa menyebabkan kematian dalam hitungan hari. Virus yang menyebabkan masyarakat terpapar penyakit DBD ini adalah virus dengue.

Virus dengue ini biasa tertularkan melalui gigitan nyamuk sebagai vektornya. Vektor ini merupakan suatu organisme hidup yang bisa menularkan suatu penyakit kepada manusia atau hewan. Nyamuk pembawa virus dengue ini berjenis Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.

Kasus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, DBD paling banyak ditularkan dari nyamuk berspesies Aedes Aegypti. Nyamuk ini mempunyai ciri khusus yaitu belang putih di sekujur tubuhnya, mempunyai badan kecil, berkeliaran pada pagi dan malam hari, dan senang berkembangbiak dalam air bersih.

Siklus dan Penyebaran Penyakit DBD
Nyamuk Aedes Aegypti mempunyai siklus hidup dengan metamorphosis yang sempurna.Sebab proses perkembangbiakannya diawali dengan bertelur. Nyamuk betina selalu mencari area yang terdapat air, seperti selokan, genangan air, bak mandi hingga rawa.

Telur akan menetas dalam kurun waktu dua hari menjadi larva dalam bentuk jentik-jentik. Fase jentik-jentik akan hidup selama 6-8 hari sebelum akhirnya berubah menjadi fase pupa, selama 2-4 hari sebelum akhirnya menjadi nyamuk Aedes Aegypti dewasa yang siap menyebarkan virus dengue pada masyarakat.

Proses penyebaran virus dengue sampai bisa menjadi menjangkit DBD pada manusia diawali virus dengue berkembangbiak dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti. Virus ini biasanya berkembang selama 4-7 hari di dalam usus halus nyamuk. Lalu virus tersebut menjangkiti seluruh tubuh nyamuk.

Bila nyamuk itu menggigit manusia, maka virus tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara masuk melalui peredaran darah. Selanjutnya, manusia akan mengalami penurunan trombosit.

Sedangkan penyebaran dari penderita DBD ke orang lain melalui kontak langsung. Gejala klinis yang ditimbulkan pada orang yang tertular DBD adalah demam tinggi, pusing, nyeri pada otot, timbul ruam, mual disertai muntah, dan nyeri pada otot dan sendi kaki dan tangan.

Faktor Utama Penyakit DBD
Penularan penyakit DBD sangat cepat. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor di antaranya, faktor iklim, kondisi suhu, kelembaban udara dan tingkat curah hujan di daerah tertentu. Penyakit DBD muncul saat musim penghujan dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi, suhu relatif rendah dan intensitas cahaya rendah.

Kondisi ini membuat nyamuk dapat berkembangbiak dengan optimal dan memperpanjang masa hidup. Faktor lain yang meningkatkan DBD adalah mempunyai sifat sterotype yang berbeda yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang dapat menyerang kembali penderita yang sudah pernah terjangkit.

Hal lain yang menjadi faktor maraknya penularan penyakit DBD adalah karena adanya tingkat kepadatan penduduk di suatu daerah yang tidak merata, perkembangbiakan jentik nyamuk pada area penampungan air di kawasan rumah. Selain itu, sikap masyarakat yang tidak menjaga kebersihan lingkungan tinggalnya menjadi tempat pertumbuhan nyamuk jenis Aedes Aegypti.

Kasus DBD di Bantul dan Gunungkidul
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan merupakan salah satu provinsi yang mempunyai angka kasus DBD terbesar di Indonesia, karena kasus DBD ini masih tinggi. Bahkan sering terjadi Kejadian Luar biasa (KLB) dengan banyaknya kasus DBD dan jumlah korban meninggal.

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi DIY hingga Bulan Juni 2020, kasus DBD mencapai angka 2.959 orang dan lima orang meninggal dunia. Kasus ini tersebar empat kabupaten dan satu kota yaitu Bantul`(944 kasus), Gunungkidul (895 kasus, empat meninggal), Sleman (668 kasus, satu meninggal), Kulonprogo (203 kasus) dan Kota Yogyakarta (249 kasus).

Berdasarkan data tersebut, daerah yang memiliki kasus DBD tertinggi berada di Kabupaten Bantul dengan angka kasus DBD mencapai 944 kasus, tidak ada korban meninggal. Kemudian disusul Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah 895 kasus, dengan empat orang meninggal dunia.

Strategi Pengendalian Vektor Terpadu
Banyaknya kasus DBD di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, maka perlu dicarikan solusi dan strategi untuk pengendaliannya. Salah satunya, dilakukan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) ymemberikan edukasi terhadap masyarakat.

Masyarakat diajari cara pembasmian nyamuk Aedes Aegypty dengan menerapkan 3 M (menutup, menguras, mengubur). Selain itu juga pemasangan kelambu dan pemberian edukasi tentang obat atau vaksinasi dalam menanggulangi penyebaran penyakit DBD. Untuk program edukasi ini dilakukan dengan target utamaya adalah mahasiswa, komunitas, masyarakat umum, pemerintah dan Dinas Kesehatan.

Program lain yang masuk dalam PVT adalah Program Kimiawi. Program ini mengajarkan masyarakat untuk membuat biolarvasida yang berbahan dasar tanaman dan bukan zat kimia. Program ini diharapkan bisa efektif membunuh jentik-jentik dan tidak akan membuat jentik-jentik resisten, aman bagi manusia dan berfokus untu membunuh target seperti jentik-jentik.

Selain pembuatan biolarvasida program ini mengajarkan masyarakat untuk membuat obat antinyamuk dan lotion antinyamuk. Bahan dasarnya tanaman yang tidak disukai nyamuk dengan tujuannya sama seperti biolarvasida.

Program lainnya, pengendalian biologis dengan cara memelihara jenis ikan pemakan jentik di kolam yang terdapat di area rumah, pelepasan predator alami di sekitar kawasan rumah untuk memakan nyamuk penyebab DBD dan pemeliharaan tanaman seperti lavender, rosemary, marigold dan jeruk.

Program terakhir adalah pengendalian lingkungan dengan mebersihkan tempat tampungan air hingga selokan supaya tidak ada jentik-jentik, lalu menutup genanagan air yang ada di sekitar pemukiman, pemetaan tempat khusus, pengangkatan tanaman air sampai pada penebangan pohon tinggi di sekitar pekarangan untuk mengurangi kelembaban. Target untuk program ini adalah masyarakat, mahasiswa, aktivis hingga komunitas supaya mengurang perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Penutup
Penanganan terhadap penyakit DBD di daerah Bantul dan Gunungkidul harus dilakukan dan terus dikembangkan mulai dari pemerintah kabupaten hingga tingkat rukun tetangga (RT). Sehingga program ini bisa mengurangi penyebaran penyakit DBD dan menguragi korban jiwa di wilayah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

*) Isi di luar tanggung jawab redaksi

About The Author

Reply